Kunjungi Cirebon Yuk ! Bila anda berziarah ke Makam Sunan Gunung Jati Cirebon, sempakantlah mampir ke warung yang berjejer di sekitar Jl. GunungJati. Disana anda akan menemui cemilan yang terbuat dari kerak nasi. Itulah jenis cemilan bernama intip.
Kata intip yang berarti keraknasi liwet diambil dari bahasa Jawa Cirebon. Jajanan ini banyak dijumpai di sekitar Wisata Religi Komplek Makam Sunan Gunung Jati, Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon.
Ade Marzuki, seorang produsen intip warga Desa Jamerta Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon mengatakan, makanan ringan ini merupakan cemilan yang memiliki aroma dan rasanya yang khas.
“Yang kami baru memproduksi dua rasa yakni rasa manis dan asingurih,” kata pria yang akrab dipanggil Bang Jack ini. Bersama istrinya, Sri Harsini, ia mulai memproduksi intip sejak 2010. Bahan baku intip dibeli dari pengepul atau tetangga sekitar dengan harga Rp. 11 ribu/kg.
Selain memproduksi, Ade juga menjual langsung ke konsumen dengan membuka warung cemilan dan makanan ringan khas Cirebon lainnya. “Intip ini sebenarnya cemilan khas GunungJati. Sedangkan daerah lain yang menjual intip sebagian besar membeli dari produsen di sekitar Gunung Jati dan Astana,” ujarnya.
Ia menjelaskan, proses produksi intip yang sudah kering digoreng hingga warnanya menguning. “Sebaiknya pembakarannya menggunakan kayu agar tingkat kematangannya lebih merata. ”Setelah matang dan sebelum ditiriskan terlebih dahulu diolesi air bumbu sesuai pilihan, manis atau asin gurih.
Bumbunya terdiri dari gula pasir, santan dan rempah-rempah. “Perpaduan rasa intip dengan bumbu rempahnya yang melekat membuat intip menjadi lebih gurih dan renyah,” katanya sambil membungkus intip yang siap dijual.
Harga intip ini tergantung rasa. “Intip manis dijual Rp. 30 ribu per kilo sedangkan intip asin gurih dijual Rp. 35 ribu per kilo. ”Konsumen cemilan renyah gurih ini sebagian besar adalah peziarah Makam Sunan Gunung Jati sebagai oleh-oleh khas Cirebon untuk dibawa ke daerah asal.
Menurutnya, sebagian besar kendala pengrajin inti padalah masalah permodalan. Ade berharap ada bapak angkat untuk pengrajin agar produksi intip terus meningkat.
Target Ade kedepan dalam mengembangkan pemasaran adalah penjualan intip di supermarket. “Saya berharap pemasaran intip tidak hanya untuk peziarah tetapi dapat dijual di supermarket dengan kemasan yang baik,” harapnya. (Ir)
Foto :Irwan Gunawan
