Wisata Ziarah Sunan Gunung Jati

Kunjungi Cirebon Yu !. Sejarah mencatat bahwa Sunan Gunung Jati adalah salah satu Cucu dari Raja Diraja Prabusiliwangi Pamanahrasa Raja Kerajaan Pajajaran yaitu anak dari Putri Nyi Ratu Rarasantang sekaligus menantu dari Pangeran Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana.

Gunungjati 1 Gunungjati 2Gunungjati 4 Gunungjati 5 Gunungjati 6 Gunungjati 7 Gunungjati 8 Gunungjati 9 Gunungjati 10

Berdirinya Kesultanan di Cirebon tidak bisa kita pungkiri ada keterkaitan dengan kerajaan Pajajaraan kerajaan yang menguasai wilayah Pasundan.

Pada abad keĀ 15 agama Islam sudah berkembang di Pulau jawa, terutama di gresik Jawa Timur. Diwilayah pajajaran terdapat negeri Singapura (sekarang Celancang) yang memiliki Pelabuhan Internasional Muara Jati. Negeri Singapura ini dipimpin oleh Ki Gede Surawijaya dan Muara jati dipimpin seorang syahbandar yang bernama Ki Gede Tapa atau Ki Jumajan Jati yang bersikap toleran terhadap pedagang asing, terutama terhadap budaya dan agama para pendatang dari berbegai belahan dunia.

Gunung Jati adalah tempat yang diizinkan oleh penguasa Negeri Singapura ini didiami oleh rombongan pedagang dari Bagdad yang bernama Syekh Idlofi Mahdi. Dan karena masa itu banyak orang yang tertarik masuk Islam maka didirikanlah Paguron Islam Gunung Jati.

Karena terkenalnya Paguron Islam Gunung Jati ini maka kedua putra putri Raja Kerajaan Galuh Pakuan Pajajaran ini tertarik untuk belajar Agama Islam yang kepergiannya dari Keraton Pajajaran di Pakuan (sekarang Bogor) tidak direstui oleh Prabusiliwangi. Kedua Putra dan Putri ini bernama Pangeran Walangsungsang dan Nyi Ratu Rarasantang beserta istri dari Pangeran Walangsungsang Nyi Endang Geulis.

Kedua Putra dan Putri Raja Pajajaran ini sekaligus menemui Eyang nya Ki Gede Tapa (bapak dari ibunya yaitu Nyi Subanglarang) dan sekaligus memenuhi pesan ibunya untuk belajar Agama Islam ke Paguron Gunung Jati. Maka setelah dirasakan cukup menimba Ilmu Agama Islam kepada Syekh Quro di Paguron Islam Gunung Jati ini diperintahkan membuka hutan untuk dijadikan perkampungan yang berada di bagian selatan Gunung Jati. Perkampungan atau pedukuhan ini bernama Tegal Alang-Alang. Pedukuhan ini berkembang pesat menjadi pusat perdagangan rebon (udang kecil2) dan sambal petis yang terkenal sampai ke wilayah pasundan. Atau dikenal sebagai Cai = air/tempat Rebon = Udang kecil2. Atau dikenal sebagai tempat rebon atau Cirebon. Pengistilahan ini juga beriring sebagai tempat pertemuan atau pencampuran dari berbagai bangsa, suku, dan agama. Negeri ini disebut juga sebagai Negerai Caruban atau artinya campuran.

Dipertengahan kepemimpinan Pangeran Walangsungsang atau disebut sebagai Pangeran Cakrabuana maka diperintahkan untuk Ibadah Haji bersama adiknya Nyi Ratu Rarasantang ke Mekah. Maka selama perjalanan Ibadah Haji ini Pangeran Cakrabuana menunjuk Ki Pengalang Alang atau Ki Danusela sebagai pimpinan Padukuhan Tegal Alang Alang.

Di kota Mekah selama pendalaman memperdalam Agama Islam Nyi Ratu Rarasantang dinikahkan dengan pembesar Kota Isma’illiyah bernama Syarif Abdillah bun Nurul Alim dari suku Bani Hasyim. Pada masa itu pusat pemerintahan Islam ada di Turki (Istambul). Maka Nyi Ratu Rarasantang diganti nama menjadi Syarifah Muda’im. Perkawinan itu kemudian dikaruniai 2 orang putra Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah.

Kurang lebih 3 bulan setelah kelahiran dua keponakannya Pangeran Cakrabuana berpamitan untuk kembali ke Tanah Jawa Caruban.

Pada saat kedatangannya kembali sekitar tahun 1456 perkembangan Tegal Alang-Alang semakin pesat selama ditinggalkan ibadah haji ke Mekah. Maka diserahkan kembali tampuk kepemimpinan dari Ki Pangalang Alang kepada Pangeran Cakrabuana. Bersamaan dengan itu ditingkatkanlah menjadi sebuah Negeri dengan nama NAGARI CARUBAN LARANG, sekaligus membentuk pemerintahannya.

Baru pertama kali ini ada negeri yang pola pemerintahannya menggunakan pola pemerintahan Islam dibawah wilayah Kerajaan Pajajaran. Maka berita ini sampailah kepada Prabusiliwangi. Walau sedikit kurang berkenan dalam hati namun juga sekaligus bangga terhadap anaknya berhasil membangun Negeri namun berhaluan Islam, maka datanglah ke Negeri Caruban Larang ini untuk diresmikan . Prabusiliwangi sendiri memberi gelar anaknya SRI MANGGANA. Kehadiran Prabusiliwangi juga di hadiri juga oleh adiknya Pangeran Cakrabuana yaitu Jaka Sangara atau Kiansantang yang tertarik untuk tinggal di Nagari Caruban Larang.

Maka pembangunan pemerintahan di Nagari Caruban Larang terus berlanjut dan kemudian didirikan Istana Pakungwati diambil nama dari nama anaknya sendiri. di seberang Gunung Jati dibangun juga pertamanan atau peristirahatan namanya Gunung Sembung yang sekarang menjadi tempat peristirahatan terakhir dari keluarga kesultanan. Di gunung Sembung ini dimakamkan seperti : Sunan Gunung Jati, Tubagus Pasai Fatahilah/Faletehan, Syarifah Mud’im (Nyi Ratu Rarasantang), Nyi Gedeng Sembung (Nyi Qurausyin), Nyi Mas Tepasari, Pangeran Cakrabuana (Mbah Kuwu Walangsungsang), Nyi Ong Tien , Pangeran Dipati Carbon, dan banyak lagi lainnya. Banyak para peziarah yang datang ketempat ini dan para peziarah pada hari-hari biasa hanya bisa sampai pintu gerbang Pintu Pasujudan.(ahrs).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>