Profile Kabupaten Majalengka

Kabupaten Majalengka, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Majalengka. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Indramayu di utara, Kabupaten Cirebondan Kabupaten Kuningan di timur, Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya di selatan, serta Kabupaten Sumedang di barat.
Kabupaten Majalengka terdiri atas 26 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan di KecamatanMajalengka. Kantor Bupati terletak di Pendopo, selatan dari Alun-alunMajalengka berdekatan dengan Masjid Agung Al Imam

BupatiPendudukSeni dan BudayaGeologiMorfologiTopografiCuaca dan IklimHidrologisTransportasiObyek WisataSejarahMakanan Khas
1. RT. Dendranegara 1819 – 1849
2. RAA. Kartadiningrat 1849 – 1861
3. RAA. Kartadiningrat 1861 – 1868
4. Rd Tumenggung Soera Adhi Ningrat 1868 – 1886
5. RAA. Salmon Suriadiningrat 1886 – 1896
6. RMA. Supraadiningrat 1896 – 1902
7. RA. Sastraningrat 1902 – 1922
8. RMA. Suriatanudibrata 1922 – 1944
9. RA. Umar Said 1944 – 1945
10. R. Enoch 1945 – 1947
11. R.H. Hamid 1947 – 1948
12. R. Sulaeman Nata Amijaya 1948 – 1949
13. M. Chavil 1949
14. RM. Nuratmadibrata 1949 – 1957
15. H. Aziz Halim 1957 – 1960
16. H. RA. Sutisna 1960 – 1966
17. R. Saleh Sediana 1966 – 1978
18. H. Moch. Saleh Paindra 1978 – 1983
19. H. RE. Djaelani, SH. 1983 – 1988
20. Drs. H. Moch. Djufri Pringadi 1988 – 1993
21. Drs. H. Adam Hidayat, SH., M.Si 1993 – 1998
22. Hj. Tutty Hayati Anwar, SH., M.Si 1998 – 2008
23. H. Sutrisno, SE., M.Si 2008 – 2013

Latar Belakang Masyarakat Majalengka umumnya berasal dari etnis Sunda secara dominan. Karena tata kehidupannya menunjukan kekentalan dengan budaya Sunda, seperti penggunaan bahasa Sunda. Namun untuk wilayah Pekaleran atau Majalengka bagian utara meliputi wilayah kecamatan Jatitujuh, Ligung, dan Sumberjaya mayoritas masyarakatnya berasal dari suku Cirebon dan bahasa yang digunakan adalah bahasa Cirebon & Dermayon.

Sebagai wilayah yang dilalui oleh dua kebudayaan besar yaitu Sunda & Jawa maka Kabupaten Majalengka memiliki keragaman seni budaya yaitu Sampyong, Wayang Golek, Gaok, Jaipong, Sintren, Tarling, Tari topeng dll.

Seni & Budaya Majalengka

 

Seni & Budaya adalah sesuatu yang berkembang dan dimiliki secara bersama oleh sebuah kelompok orang dari berbagai daerah dan diwariskan dari generasi ke generasi, sama halnya dengan kota-kota lain kota Majalengka juga memiliki khas seni dan budaya yang berkembang dari generasi ke generasi sampai dengan sekarang. Unsur-unsur budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial masyarakat Majalengka, diantaranya :

 

  •  Sintren
  •  Sampyong
  •  Gaok
  •  Kuda Renggong
  •  Tari Topeng Beber (Klasik)
  •  Reog
  •  Pantun

 

Sintren

Kesenian sintren di Majalengka berkembang di daerah Ligung, yaitu daerah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Indramayu, daerah yang dianggap merupakan asal kesenian Sintren. Kedekatan wilayah menyebabkan terjadinya penetrasi Indramayu ke wilayah Ligung yang disebabkan adanya komunikasi, sentuhan sosial, dan juga sentuhan budaya. Sintren disebut juga Ronggeng Suyung, namun istilah ini tidak sepopuler Sintren.  Kesenian sintren yang ada saat ini di Desa Randegan Wetan Kecamatan Jatitujuh.

 

Sampyong

Pada tahun 1960 di daerah Cibodas Kecamatan Majalengka tumbuh sebuah permainan rakyat yang dikenal dengan nama Ujungan. Permainan ini merupakan adu ketangkasan dan kekuatan memukul. Alat untuk memukul terbuat dari kayu rotan yang berukuran 60cm. Pemain terdiri dari dua orang, baik laik-laki maupun perempuan dapat memainkan permainan ini. Untuk menjaga keamanan, kedua pemain menggunakan tutup kepala yang terbuat dari kain yang diisi dengan bahan-bahan empuk, dan disebut dengan balakutak. Di dalam permainan ini yang menjadi sasaran tidak terbatas dari ujung kepala hingga ujung kaki.

 

Gaok

Kesenian Gaok merupakan seni tradisional yang telah mengalami sinkritisme antara nilai budaya etnis Sunda Buhun yang bernuansa Islam yang dibawa dari Cirebon, di dalam pertunjukkan selalu diawali dengan bacaan Basmallaa sedangkan bahasa yang disampaikan adalah bahasa sunda. Terkadang gayanya seperti orang yang sedang mengumandangkan adzan. Busana yang digunakan untuk pemain merupakan busana khas sunda. Seni ini mulai berkembang di Majalengka sejak masuknya ajaran Islam sekitar abad 15 ketika pangeran Muhammad menyebarkan agama Islam.

Hingga sekarang seni tradisional Gaok masih dikembangkan di Desa Kulur Kecamatan Majalengka sejak tahun 1920. Dalam permainan ini, pemain saling bergantian melantunkan suara yang keras, sedangkan kata Gaok diambil dari kata “ngagorowok” atau berteriak dalam bentuk pupuh. Sebelum kesenian ini ditampilkan, biasanya diadakan upacara atau memberi sesajen kepada para leluhur.

 

Kuda Renggong

Kuda renggong tumbuh dan berkembang di Kabupaten Majalengka sejak tahun 1950-an. Adalah sebuah seni pertunjukkan rakyat yang memiliki “makna simbolis kuda renggong adalah makna spiritual, makna interaksi mahluk tuhan, bermakna spiritual, teatrikal, dan makna universal.” Pertunjukan kuda renggong bersifat helaran dan pada awalnya disapkan melayani pesta sunat. Penampilannya kemudian bukan hanya untuk pesta sunat, namun dipersiapkan juga untuk acara lain, seperti upacara hari besar, festival, menyambut tamu, dll.

Kemampuan kuda menari sambil berjalan dan melakukan atraksi bermain silat. Kelompok kesenian ini tersebar di berbagai kecamatan : Kecamatan Leuwimunding, Palasah, Sumberjaya, dll.

 

Tari Topeng Beber (Klasik)

Tarian topeng di majalengka tumbuh di majalengka pada tahun 1930 an sejak bapak candra dari cirebon menurunkan kemampuan menari topeng pada beberapa muridnya yang diantaranya anaknya bapak candranya sendiri. Di beber tari topeng dikembangkan oleh mak nayem,yang seterusnya diwariskan kepada waniti,suanda dan suhadi.Di randegan dikembangkan oleh ita karwita yang pada hari ini akan mempertontonkan tarian topeng.

Tarian topeng diiringi oleh gamelan pelog atau salendre yang di pukul oleh beberapa pemain gamelannya.

Tari topeng klasik berkembang di Desa Randegan Kecamatan Jatitujuh. Kelompok seni tradisional yang didirikan tahun 1952 oleh Ema Nayem, sebagai kelanjutan dari tradisi di Desa Beber kemudian lebih dikenal dengan Tari Topeng Beber.

 

Terdapat beberapa jenis tari topeng, seperti :

  1. Panji
  2. Samba
  3. Tumenggung
  4. Rahwana
  5. Rumyang

Kelima jenis tersebut menggambarkan siklus kehidupan manusia.

 

Reog

Seni Reog di Majalengka berkembang sejak tahun 1930-an, yang pertama kalinya muncul kesenian reog atau grup reog di Desa Cigasong, dibawah pimpinan Sastrawinata. Sifat penampilan seni reog adalah aktif, atraktif, dan komunikatif. Salah satu keahliannya, para pemain reog harus bisa menabuh, bernyanyi, dan berdialog dengan spontanitas dan mempunyai kemampuan menari.

 

Kata Reog berasal dari kata ruang rieng yang artinya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Secara filosofis hal ini menggambarkan suasana kehidupan bersama dalam keadaan hidup rukun dan damai.

 

Pantun

Kesenian pantun merupakan kesenian tradisional yang didukung oleh seni sastra dan karawitan.

Jakob sumardjo(2003) menyebut bahwa pantun adalah tontonan di teater bahasa.disebut teater bahasa karena pantun hanya digelar oleh seorang juru pantun yang menceritakan satu pemain yang diiringi oleh kecapi.

Pernah ada beberapa juru pantun di majalengka diantaranya :

1 Ki saein dari tonjong

2 Sidik dari bantarjati

3 Warwo dari jatitujuh

4 Maun dari pasir palasah

5 Nadi dari kutamanggu

6 Baedi dari kadipaten

7 Kusma dari kadipaten

 

Ketujuh juru pantun tersebut semuanya telah meninggal dunia.sekarang kurang lebih ada 4 juru pantun di majalengka yang masih hidup hanya umur mereka yang tak lagi muda,yaitu aki encim dan aki ompong dari dawuan,Aki cecep dari waringin.dan satu lagi juru pantun dari manjeti yang sampai hari ini belum diketahui siapa-siapanya.

Menurut keadaan geologi yang meliputi sebaran dan struktur batuan, terdapat beberapa batuan dan formasi batuan yaitu Aluvium seluas 17.162 Ha (14,25%), Pleistocene Sedimentary Facies seluas 13.716 Ha (13,39%), Miocene Sedimentary Facies seluas 23,48 Ha (19,50%), Undiferentionet Vulcanic Product seluas 51.650 Ha (42,89%), Pliocene Sedimentary Facies, seluas 3.870 Ha (3,22%), Liparite Dacite seluas 179 Ha (0,15%), Eosene seluas 78 Ha (0,006%), Old Quartenary Volkanik Product seluas 10.283 Ha (8,54%). Jenis-jenis tanah di Kabupaten Majalengka ada beberapa macam, secara umum jenis tanah terdiri atas Latosol, Podsolik, Grumosol, Aluvial, Regosol, Mediteran, dan asosianya. Jenis-jenis tanah tersebut memegang peranan penting dalam menentukan tingkat kesuburan tanah dalam menunjang keberhasilan sektor pertanian

Keadaan morfologi dan fisiografi wilayah Kabupaten Majalengka sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh perbedaan ketinggian suatu daerah dengan daerah lainnya, dengan distribusi sebagai berikut :
Morfologi dataran rendah yang meliputi Kecamatan Kadipaten, Kasokandel, Panyingkiran, Dawuan, Jatiwangi, Sumberjaya, Ligung, Jatitujuh, Kertajati, Cigasong, Majalengka, Leuwimunding dan Palasah. Kemiringan tanah di daerah ini antara 5%-8% dengan ketinggian antara 20-100 m di atas permukaan laut (dpl), kecuali di Kecamatan Majalengka tersebar beberapa perbukitan rendah dengan kemiringan antara 15%-25%. Morfologi berbukit dan bergelombang meliputiKecamatan Rajagaluh dan Sukahaji sebelah Selatan, Kecamatan Maja, sebagian Kecamatan Majalengka. Kemiringan tanah di daerah ini berkisar antara 15-40%, dengan ketinggian 300-700 m dpl. Morfologi perbukitan terjal meliputi daerah sekitar Gunung Ciremai, sebagian kecil Kecamatan Rajagaluh, Argapura, Sindang, Talaga, sebagian Kecamatan Sindangwangi, Cingambul, Banjaran, Bantarujeg, Malausma dan Lemahsugih dan Kecamatan Cikijing bagian Utara. Kemiringan di daerah ini berkisar 25%-40% dengan ketinggian antara 400-2000 m di atas permukaan laut.

Bagian utara wilayah kabupaten ini adalah dataran rendah, sedang di bagian selatan berupa pegunungan. Gunung Ciremai(3.076 m) berada di bagian timur, yakni di perbatasan dengan Kabupaten Kuningan. Gunung ini adalah gunung tertinggi di Provinsi Jawa Barat, dan merupakan taman nasional, dengan nama Taman Nasional Gunung Ciremai

Curah hujan tahunan rata-rata di Kabupaten Majalengka berkisar antara 2.400 mm-3.800 mm/tahun dengan rata-rata hari hujan sebanyak 11 hari/bulan. Angin pada umumnya bertiup dari arah Selatan dan tenggara, kecuali pada bulan April sampai dengan Juli bertiup dari arah Barat Laut dengan kecepatan antara 3-6 knot (1 knot =1.285 m/jam).

Dari aspek hidrologis di Kabupaten Majalengka mempunyai beberapa jenis potensi sumber daya air yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Potensi sumber daya air tersebut meliputi:
Air permukaan, seperti mata air, sungai, danau, waduk lapangan atau rawa, Air tanah, seperti sumur bor dan pompa pantek dan air hujan. Sungai yang besar di antaranya adalah Cilutung, Cijurey, Cideres, Cikeruh, Ciherang, Cikadondong, Ciwaringin, Cilongkrang, Ciawi dan Cimanuk.

Pada tahun 2010 direncanakan Bandara Internasional Majalengka akan mulai dibangun. Majalengka dilintasi jalan provinsi (jalur Cirebon-Sumedang-Bandung). Dahulu kabupaten ini dilintasi jalur kereta api Cirebon-Palimanan-Kadipaten, namun saat ini tidak difungsikan lagi.
Jalur utama di Ibukota kabupaten Majalengka adalah Jalan Kyai Haji Abdul Halim, yang membelah kota Majalengka dan berujung di Perempatan Cigasong, sebagai jalan yang paling di perhatikan oleh pemerintah Kabupaten Majalengka Jalan ini selalu di Perluas setiap akan memasuki Hari Raya Idul Fitri atau hari besar lain nya. oleh karena itu, banyak cabang perusahaan yang menetap di pinggiran jalan ini. Selain itu akan direncanakan pembangunan jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisundawu) dan Cikampek-Palimanan yang akan melintasi wilayah Kab. Majalengka. wilayah Majalengka sangatlah strategis untuk perusahaan karena wilayah majalengka sering di lewati jalur mudik baik hari raya idul Fitri maupun Idul adha jadi para perusahaan bisa membuka usahanya.

1. Kawasan Wisata Prabu Siliwangi, Rajagaluh.
2. Curug Muara Jaya, Argapura
3. Situ Sangiang , Banjaran.
4. Talaga Herang, Sindangwangi.
5. Curug Cipeuteuy, Sindangwangi.
6. Situ Cipadung
7. Taman Buana Marga, Lemahsugih.
8. Perkebunan Teh Cipasung, Lemahsugih.
9. Area Paralayang Gunung Panten, Sidamukti.
10. Situs Sejarah ” Cipanten ” Gunungkuning.

Pertanyaan pokok kita adalah apakah memang kerajaan Sindangkasih itu ada sebelum ada Kabupaten Majalengka.  Kerajaan Majalengka dalam sejarah tidak pernah tercatatkan ada. Tidak ada bukti apapun tentang keberadaan kerajaan yang bernama Majalengka di Kabupaten Majalengka sekarang.

statbladYang pertama-tama harus diyakini sebagai kebenaran ilmiah adalah bahwa nama Majalengka itu pertama ada adalah sebagai nama Kabupaten (11 Februari 1840) yang merupakan perubahan dari nama Kabupaten Maja (berdiri 5 Januari 1819), dan sebagai nama ibu kota kabupaten baru tersebut (juga terhitung 11 Februari 1840) sebagai perubahan nama dari nama ‘tempat” (daerah) yang tadinya bernama Sindangkasih, yang sebagiannya dijadikan tempat kedudukan (ibu kota) Kabupaten Majalengka. Kota Majalengka bukan perubahan kota Sindangkasih, melainkan tadinya “daerah” Sindangkasih, karena “kota” Sindangkasih tetap ada sampai sekarang.

 

Jadi, Sindangkasih di Majalengka itu ada. Hanya saja keberadannya itu semula sebagai apa, itu yang sampai sekarang masih menjadi misteri yang belum bisa terungkap dengan jelas. Jelasnya, apakah Sindangkasih itu hanya sekedar sebagai desa biasa–seperti sekarang, ataukah memang merupakan suatu “kerajaan.” Kalau sebagai semacam “distrik” harus diakui ada, setara dengan “distrik” Talaga, Rajagaluh dan lain-lain.

Peta-peta Belanda berikut membuat Sindangkasih Majalengka merupakan misteri.

 

 

 

 

Peta “derah Cirebon” menurut Bellin, 1764.

petadaerahcirebonPada peta di atas tidak tertampakkan ada “kota” atau kerajaan apapun di “wilayah Majalengka” sekarang, kecuali WATTAS  (sekarang desa Wates, Sangiang) , sementara Indramayu ada. Talaga saja, sebagai sebuah kerajaan (ketumenggungan bawahan kerajaan Galuh-Pajajaran) tidak tertampakkan, padahal Wattas itu diduga di derah Talaga. Wattas (Wates) ada di daerah Talaga, karena di bawahnya (selatan) ada  Koewaling (Kawali), Goloen (Galuh, Ciamis) et Imparagara (dan Imbanagara).

Peta derah Cirebon menurut Crawfurd, 1820

Pada peta Crawfurd di atas, yang diterbitkan 1820 (tampaknya sebelum ia tahu ada Kabupaten Maja, 1819) yang tampak di daerah Majalengka hanya Talaga (dan “kota penyeberangan” Karangsambung).

Peta Cirebon sebelum 1819

Pada peta di atas ada beberapa nama daerah di wilayah Majalengka sebelum tahun 1819. Daerah-daerah itu (tercetak dengan huruf-huruf yang lebih besar dari nama “kota”) adalah Kadongdong, Rajagaluh, Sindangkasih, dan Talaga. Jadi, Sindangkasih bisa setara dengan Rajagaluh (dikenal sebagai kerajaan kecil Galuh-Pajajaran) dan juga Talaga. Kadongdong belum diketahui tadinya berupa apa. Pertanyaannya, kenapa Sindangkasih saat itu menjadi sedemikian “besar”? Tadinya memang sebagai “kerajaan kecil”?

Dalam peta itu ada pula beberapa “kota kecil” di jalur jalan raya (jalan pos atau “post weg”) Karangsambung sampai Cirebon, yaitu Baturuyuk, Cikru (Cikro, Cikeruh?), dan Banjaran. Lalu ada Pajagan, Bengawan, dan Plumbon.

Pada dua peta berikut ada Majalengka dan ada pula Sindangkasih. Sindangkasih “salah letak” di utara Majalengka, atau ada Sindangkasih yang lain? Kemungkinan terbesar itu dimaksudkan Maja, tetapi karena berubah nama jadi Majalengka, salah meletakkannya di “lokasi” Maja, karena menduga nama kota Maja berubah jadi Majalengka. ATAU MEMANG ADA SINDANGKASIH DI UTARA MAJALENGKA, BUKAN SINDANGKASIH YANG SEKARANG ADA DI SELATAN MAJALENGKA.

Peta Sindangkasih di Majalengka menurut Weller, 1862

Peta Sindangkasih di Majalengka menurut Banastudel, 1899

Peta Junghuhn Berikut (1842) menegaskan Majalengka itu Sindangkasih (tadinya Sindangkasih, sekarang jadi Majalengka). Tapi, bukan kota Sindangkasih berubah nama jadi Majalengka, karena kota Sindangkasih tetap ada. Majalengka merupakan “daerah” (kota) yang sama sekali baru (berdiri 11 Februari 1840), yang bertempat di wilayah Sindangkasih.

Peta Junghuhn (1842):  Majalengka = Sindangkasih

Perhatikan jalan besar (garis dobel) dari jalan raya (jalan pos–warna merah) dari arah Cirebon ke Majalengka (Sindangkasih) dan Maja, melalui Banjaran dan Rajagaluh. Jalan besar itu merupakan jalan “karesidenan” yang digunakan Residen Cirebon kalau melakukan inspeksi ke Maja sebagai ibu kota Kabupaten Maja sebelum Majalengka (ibu kota Kabupaten Majalengka). Dari Maja ke Talaga jalan kabupaten (satu garis saja). Ibu kota Kabupaten Maja di Maja, bukan di Talaga. Juga salah menyebut ibu kota Kabupaten Maja di Sindangkasih. Sindangkasih (di daerah Sindangkasih) dibuat ibu kota baru, Majalengka. Tidak juga kota Sindangkasih berubah nama jadi Majalengka, Sindangkasih masih tetap ada (dari beberapa peta tertunjukkan seperti itu — dan sampai sekarang, walau hanya menjadi desa kecil saja).

Pada peta-peta berikut (Cirebon 1857) tampak Sindangkasih dalam posisi desa sekarang, selatan Majalengka.

Peta Karesidenan Cirebon 1857

Pada peta Van Bemmelen (1903) Sindangkasih tak ditampakkan, sudah dianggap “kecil”. Yang tampak Jatitujuh, Jatiwangi, Kadipaten, Majalengka, Leuwimunding, Maja, dan Talaga. Rajagaluh juga “hilang.”Masih ada Karangsambung, sebagai “kota penyeberangan” dari Sumedang ke Majalengka dan Cirebon. Di dekatnya ada Tomo yang dikenal sebagai “port Tomo” (pelabuhan sungai).

Peta lebih antik berikut “dicurigai” (karena tulisan tak jelas dan menggunakan “lafal Belanda”) menunjuk Sindangkasih (Cindanglassiy ?), sebelah kanan Jati Bosch. Tetapi adanya di sebelah timur sungai Cikeruh (Tjikoro). Di sebelah baratnya (kanan), di hulu sungai Cikeruh ada kota Tjikaro (Sikaro, Tjikro), dan lebih ke barat lagi ada Jatiraga (Kadipaten).

Dalam berbagai ceritera (bersumber babad dan lain-lain), daerah Sindangkasih pernah diberikan oleh Sumedang (Pangeran Geusan Ulun) ke Cirebon (Panembahan Ratu) sekitar tahun 1585M. sebagai “penukar” penculikan Ratu Harisbaya. Sindangkasih yang mana? Sindangkasih Majalengka sudah ganti jadi Majalengka sejak 1490 (konon!) dan sudah masuk wilayah Cirebon di bawah pimpinan “Bupati Pangeran Muhammad” (konon juga). Masa punya Cirebon diberikan ke Cirebon? Ada kemungkinan itu Sindangkasih Galunggung yang orang Cirebon menyebutnya Sindangkasih. Perhatikan nukilan berikut!

Reorganisasi Priangan kedua, wilayah Priangan dibagi dalam 9 ajeg, yaitu setingkat kabupaten, yaitu :
1. Kabupaten Sumedang,
2. Kabupaten Bandung,
3. Kabupaten Parakanmuncang,
4. Kabupaten Sukapura,
5. Kabupaten Karawang,
6. Kabupaten Imbanagara,
7. Kabupaten Kawasen,
8. Kabupaten Wirajaba (Galuh),
9. Kabupaten Sekace (Galunggung atau Sindangkasih)

“Teka-teki” tulisan “Cindang Kasi” dalam peta kuno di atas, yang membuat kita menduga ada Sindangkasih tetapi di timur Cikeruh, terjawab dengan peta berikut (1724-1726).

“Sindangkasih” dalam Peta Jawa 1724-1726

Dalam peta itu ada Karangsambung (“Karangsambang”) dekat sungai Cimanuk (kota ditandai “tugu”), di utaranya ada “Mekgang,”  Balida (“Valida”), dan Panongan (“Panongang”), Randegan (“Ranegara”). Di sebelah timur (kanan) gunung Ciremai (“Berg Sirmey”) ada sungai yang mengalir menyatu ke Cimanuk juga. Di situ ada tanda “tugu” bertuliskan “Cundanlassi“. Nah, jika itu Sindangkasih Beber, kenapa sungainya bermuara ke Cimanuk, bukan ke pantai Kalijaga. Jika itu sungai Cikeruh, kenapa berada di sebelah timur Ciremay. Ada dua gundukan gunung Ciremai  di utara dan di selatan. Di bagian selatan ada Darma (“Derma”) dan Kuningan (“Coeningan”) yang ke utaranya ada Cikaso (“Tsikassoe”), Manis (Maniis), “Tsilaboe” dan “Djati bosch”, lalu Kalitanjung (“Kali Tanjang”).

Nah, Sindangkasih yang mana pulakah itu? Adakah sebelum Leuwimunding? Ada nama “Sindanghaji” di dekat Leuwimunding, tetapi itu berada di selatan jalan raya, sementara Cundanglassi adanya di utara jalan raya. Tapi tetap berada di sebelah timur Cikeruh. Jadi? Cundanglassi itu Sindanghaji Leuwimunding, ataukah Sindangkasih Beber? Atau, itu kemudian berubah jadi Panjalin? Misteri yang masih sulit dipecahkan!

Peta Sindanghaji Leuwimunding dan Panjalin 1897-1904

JAwaban yang paling pas adalah bahwa CUNDANLASSI ITU SINDANGKASIH YANG SEKARANG MENJADI SINDANGWASA. Sindangwasa merupakan suatu daerah yang punya sejarah–walau juga masih berupa sejarah lisan. Sindangwasa punya tokoh yang disebut Buyut Nyata (“Raden Nata…….”), yang aslinya Syekh Syarif Arifin. Artinya, “kota” itu dulunya amat penting, karenanya dituliskan dalam peta Belanda dengan sebutan SINDANGKASIH.

Sindangkasih artinya sindang (Jawa sendang) yang berarti kolam mata air yang “wangi” (kase–Sunda kuno artinya wangi-wangian atau parfum), dan kemudian berubah menjadi “sindang wasa” karena mengandung minyak (wasa = minyak atau berminyak) — sumber minyak bumi dekat Bongas. Di Sindangkasih (Sindangwasa)  ini Belanda membuat pos penjagaan (markas) (KAMPUNG ATAU BLOK POS) dengan “loji-loji” (KAMPUNG LOJI) gudang perbekalan di sekitarnya, termasuk “loji yang kobong” terbakar (LOJIKOBONG). Di dekatnya pula ada yang bernama TJIKRO (kadang Belanda menulis SIKARO  untuk sungai Cikeruh).

Jadi, regenschaft Sindangkasih yang membawahi Paningkiran (Panyingkiran Kadipaten atauPaningkiran Sumberjaya, masih belum jelas) dan Soekasari (pasti bukan Sukasari Argapura–terlampau jauh), bisa jadi aslinya Sindangwasa, baru kemudian dipindahkan ke Sindangkasih Majalengka sekarang. Oleh karena itulah ketika wilayah Sindangkasih diserahkan ke Cirebon dari Sumedang (Sindangkasih merupakan wilayah Sumedang), dianggap wilayah itu sangat strategis karena merupakan jalur ke pantai utara, itu karena jalaur pelayarannya melalui sungai Cikreuh yang bermuara ke Cimanuk dan terus ke Indramayu.

MAKANAN KHAS MAJALENGKA
Buah Ginzu  

Kabupaten Majalengka dikenal sebagai penghasil Mangga Gedong Gincu utama di Jawa Barat, bahkan di Indonesia. Karena tampilan yang memikat, rasa enak dan legit serta harga yang cukup mahal, masyarakat Majalengka menjulukinya sebagai “Mangga Keraton” atau mangga selera keraton. Dengan demikian gedong buah gincu telah dicitrakan sebagai mangga untuk konsumsi kalangan elit. Mangga gedong gincu berwarna kuning ke merah–merahan dengan ciri khas bentuk buahnya kecil dan bulat jika dicium baunya harum rasanya manis beraroma.

Daerah penghasil mangga yang cukup besar di Kabuapten Majalengka adalah Desa Pasir Muncang, Sida Mukti, Jati Serang, dan Cijuray.
Buah Duwet

Selain Buah Mangga, di Kabupaten Majalengka  juga terdapat buah Duwet atau kita mengenalnya dengan sebutan Jamblang. Buah ini sebesar anggur dengan warna keunguan. Selain menawarkan kesegaran rasa, buah ini ternyata memiliki khasiat untuk mencegah kelebihan kolesterol dan obat diabetes. Rasa buahnya manis sepat sehingga terkadang ada yang menyantapnya dengan gula pasir.
Oncom Goreng bu POPON 

Selain tempat Industri kecap tradisional,Kabupaten Majalengka   juga terkenal dengan oncom gorengnya. Cara pembuatannya tidak terlalu rumit. Oncom dipotong tipis-tipis agar ketika digoreng terasa lebih renyah. Selanjutnya Oncom digoreng di beri bawang goreng yang bikin harum aromanya. Salah satu produsen oncom goreng terletak di Desa Cijati, Kec. Majalengka kulon, Kabupaten Majalengka. Renyahnya oncom goreng sangat cocok untuk teman makan bakso/mie. Rp.27.500 /400 gr
 Kecap Majalengka

Mungkin tidak kita kurang mendengar bahwa di Kabupaten Majalengka   juga terdapat pembuatan kecap tradisional. Tahun 1980-an kecap Majalengka berada di masa keemasannya. Industri kecap khas Majalengka didirikan oleh pasangan suami-istri yang bernama H. Sa’ad dan Hj. Eroh sekitar pertengahan tahun 1900-an. Tidak ada salahnya jika kita berkunjung ke Majalengka membeli Kecap Tradisional H. Sa’ad sebagai oleh-oleh.
Rempeyek Palasah
Sudah kebiasaan kita orang sunda selalu makanan rempeyek atau gorengan yang begitu renyah dengan komposisi yang pas bumbu-bumbu nya, punya resep khas dan turun – temurun membuat lidah kita semakin asyik dan ketagihan dengan rempeyek Hanny ini. dengan bahan-bahan yang berkualitas di jamin sehat dan halal 100% Harga  Rp.180.000,-per black
Krupuk Melarat

Krupuk Melarat adalah krupuk yang tidak menggunakan minyak goreng untuk memasaknya hanya mengunakan Pasir Panas yang menjadikan krupuk itu jadi mengembang dan di bumbui dengan 2 Rasa yaitu Rasa Pedas dan rasa Asin yang cocok di makan dengan makanan rujak,baso juga enak jadi teman santap makanan lainnya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>