Profile Kabupaten Kuningan

SejarahLetak AdministrasiPembagian AdiministrasiTopografiJenis TanahDemografiPendidikanEkonomiSeni dan BudayaPemerintahanSarana PrasaranFasilitas Olah RagaPariwisataCinderamataMakanan Khas

Tahun 1819: Kuningan sebagai Kabupaten, Tahun 1498: Kuningan sebagai Ke-adipati-an (Kadipaten), Abad ke-8: Kuningan sebagai Kerajaan “Saunggalah”, Zaman Prasejarah: Kuningan sebagai Kelompok Suku

Seperti yang sudah saya kupas dalam tulisan terdahulu, dan sekedar menggarisbawahi kembali apa yang sudah diuraikan itu bahwa pada intinya periode pemerintahan di Kuningan berlangsung dalam 4 katagori masa yang berurutan yaitu:
1. Masa pemerintahan Kelompok Suku (prasejarah)
2. Masa pemerintahan Kerajaan (Hindu)
3. Masa pemerintahan Keadipatian/Kadipaten (Islam)
4. Masa pemerintahan Kabupaten (Hindia Belanda)
Penjelasan dari periode masa pemerintahan itu adalah sebegai berikut:

Masa Pemerintahan Kelompok Suku
Sebelum ada kerajaan, masyarakat di Indonesia telah mengenal sistem pemerintahan yang pemimpinnya disebut Kepala Suku yang memimpin suatu kelompok masyarakat tertentu. Kepala suku inilah akar dari konsep sistem pemerintahan berikutnya. Begitu pun yang terjadi di Kuningan, pernah berlangsung pemerintahan kelompok-kelompok suku di zaman prasejarah. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya benda-benda prasejarah zaman megalitikum & neolitikum di seputar kaki Gunung Ciremai, diantaranya berada di Dusun Cipari Desa/Kec.Cigugur. Makanya diduga bahwa daerah Kuningan sebelah barat ini dianggap sebagai daerah pemukiman masyarakat tertua di Kuningan.
Dalam sistem pemerintahan tradisional tertua ini, kepala suku tidak bekerja sendirian. Dalam hal ini diantaranya bahwa kekuasaanya dibagi lagi ke dalam 3 bagian pemegang kekuasaan yang dikenal dengan konsep “Tritangtu” yaitu: Sang Rama, Sang Resi, dan Sang Ratu. Sang Rama dianggap sebagai ketua adat, Sang Resi dianggap sebagai orang yang ahli di bidang keagamaan, dan Sang Ratu dianggap sebagai orang yang ahli di bidang pemerintahan. Dalam naskah Carita Parahiyangan diantaranya disebutkan bahwa sebelum Sanjaya menyerang ke Galuh (raja Purbasora), disarankan dulu oleh kakeknya (Ranghyang Sempakwaja) agar Sanjaya mengalahkan dulu 3 tokoh dari Kuningan: Sang Pandawa, Sang Wulan, dan Sang Tumanggal.
Konsep tritangtu ini mengingatkan kita pada konsep pembagian kekuasaan zaman Kerajaan Yunani/Romawi yang mengenal istilah “Triumvirat” (Pompius, Crasus, Julius Caesar pada Triumvirat I atau Antonius, Lepidus, Oktavianus pada Triumvirat II). Bahkan dalam zaman berikutnya ada konsep Trias Politica, yakni pembagian kekuasaan pada 3 kekuasaan yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Jadi sebenarnya terlihat kalau konsep pemerintahan yang demokratis ini sudah berlangsung di Kuningan sejak zaman dulu (prasejarah).

Masa Pemerintahan Kerajaan
Sistem pemerintahan kerajaan adalah sistem pemerintahan yang diperkenalkan oleh bangsa India ketika berlangsung hubungan perdagangan Indonesia-India pada permulaan abad pertama Masehi. Bersamaan dengan itu pula bangsa India memperkenalkan agama Hindu-Budha, tulisan Palawa (=menandakan awal sejarah bangsa Indonesia), bangunan candi, kesenian, kesusastraan (Ramayana, Mahabharata), dll.
Dalam sistem pemerintahan kerajaan pemimpinnya disebut dengan “Raja”. Dengan adanya kerajaan ini maka sebutan “Kepala Suku” yang pernah dikenal dalam tradisi pemerintahan sebelumnya, maka akhirnya berubah penyebutannya menjadi “Raja”.
Pada waktu itu di Kuningan tumbuh dan berkembang pemerintahan Kerajaan yang berbasis agama Hindu yaitu Kerajaan Saunggalah. Nama Saunggalah diambil dari nama istana/keratonnya yang disebut dengan Saunggalah (=rumah panjang). Kerajaan ini dibangun sekitar abad ke-7 M atau mungkin sebelumnya oleh Sang Wiragati (Prabu Wiragati) atau dijuluki pula Sang Pandawa. Mencapai zaman kebesarannya ketika diperintah oleh Sang Resi Demunawan atau Ranghyangtang Kuku atau Sang Kuku, atau Sang Seuweukarma (=ahli bidang hukum) sekitar abad ke-8 s.d ke-13 M. Namun akhirnya pudar setelah meninggalnya beliau karena 2 puteri beliau menikah dengan Sang Banga, dan Sang Manarah yang menjadi raja Galuh dan Pajajaran. Berikutnya Kerajaan Saunggalah akhirnya hanya merupakan daerah kecil yang mengelola masalah keagamaan (berbasis agama) atau seperti daerah mandala. Sebagian wilayahnya di Tasikmalaya (Galunggung) malah menjadi Saunggalah baru di belahan Jawa Barat bagian Selatan. Berita terakhir abad ke-13 bahwa pada masa pemerintahan Sang Lumahing Taman atau Prabu Ragasuci (raja Pajajaran) sebelum menempati istana di Pakuan pernah menempati dulu keraton di Saunggalah.

Masa Pemerintahan Ke-Adipati-an
Kuningan pada masa ini adalah masa pemerintahan yang dipimpin pertama oleh Sang Adipati Kuningan (Suranggajaya, putra Ki Gedeng Luragung yang diangkat anak oleh Sunan Gunung Jati). Adipati Kuningan diangkat sebagai pemimpin daerah Kuningan yang dilantik langsung oleh Sunan Gunung Jati pada tanggal 1 September 1498. Hari pelantikan ini diabadikan sebagai Hari Jadi Kuningan oleh Pemerintahan Daerah Kab. Kuningan.
Masa pemerintahan Sang Adipati Kuningan berarti masa pemerintahan ketika agama Islam sudah masuk dan tengah berkembang di Kuningan. Agama Islam masuk di Kuningan diperkirakan tahun 1450 atas perannya Syekh Bayanullah atau yang nanti dikenal dengan nama Syekh Maulana Akbar. Begitu juga peran Sunan Gunung Jati dalam proses Islamisasi di Luragung (Buni Haji) yang diikuti oleh istrinya yaitu putri Ong Tien atau Nyai Rara Sumanding yang sedang mengandung waktu itu.
Peralihan kekuasaan dari pemerintahan sebelumnya, yakni Ratu Selawati (Hindu) ke Adipati Kuningan (Islam) berlangsung damai, ditandai dengan pernikahan Ratu Selawati dengan Syekh Maulana Arifin (putra Syekh Maulana Akbar).
Sepeninggal Sang Adipati Kuningan berikutnya tampuk pemerintahan dilanjutkan oleh putra, cucu. cicitnya. Diantaranya Rd. Kusumajaya (Geusan Ulun Kuningan), dan Rd. Mangkubumi.

Kuningan Masa Kabupaten
Menurut pendapat Prof.Dr. H. Sobana Hardjasaputra (Guru Besar Sejarah UNPAD) penetapan Kuningan sebagai Kabupaten mengacu pada Peraturan No 23 th 1819 (staatsblad Hindia Belanda) yang menetapkan nama Kuningan sebagai nama satu dari lima Kabupaten di bawah naungan Keresiden Cirebon, yaitu: Cirebon, Maja, Bengawan Wetan, Kuningan, dan Galuh. Berarti berdasarkan staatblad bahwa th 1819 itulah sebagai awal berdirinya Kuningan sebagai nama Kabupaten (= pemerintahan daerah Tk II).

Kabupaten Kuningan terletak pada titik koordinat 108° 23 – 108° 47 Bujur Timur dan 6° 47 – 7° 12 Lintang Selatan. Sedangkan ibu kotanya terletak pada titik koordinat 6° 45 – 7° 50 Lintang Selatan dan 105° 20 – 108° 40 Bujur Timur.
Bagian timur wilayah kabupaten ini adalah dataran rendah, sedang di bagian barat berupa pegunungan, dengan puncaknya Gunung Ceremai (3.076 m) di perbatasan dengan Kabupaten Majalengka. Gunung Ceremai adalah gunung tertinggi di Jawa Barat.
Dilihat dari posisi geografisnya terletak di bagian timur Jawa Barat berada pada lintasan jalan regional yang menghubungkan kota Cirebon dengan wilayah Priangan Timur dan sebagai jalan alternatif jalur tengah yang menghubungkan Bandung-Majalengka dengan Jawa Tengah. Secara administratif berbatasan dengan
• Sebelah Utara : Kabupaten Cirebon
• Sebelah Timur : Kabupaten Brebes (Jawa Tengah)
• Sebelah Selatan : Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap (Jawa Tengah)
• Sebelah Barat : Kabupaten Majalengka

Kabupaten Kuningan terdiri atas 32 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 361 desa dan 15 kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Kuningan.
Berikut adalah kecamatan-kecamatan dalam wilayah Kabupaten Kuningan:
1. Kecamatan Darma
2. Kecamatan Kadugede
3. Kecamatan Nusaherang
4. Kecamatan Ciniru
5. Kecamatan Hantara
6. Kecamatan Selajambe
7. Kecamatan Subang
8. Kecamatan Cilebak
9. Kecamatan Ciwaru
10. Kecamatan Karangkancana
11. Kecamatan Cibingbin
12. Kecamatan Cibeureum
13. Kecamatan Luragung
14. Kecamatan Cimahi
15. Kecamatan Cidahu
16. Kecamatan Kalimanggis
17. Kecamatan Ciawigebang
18. Kecamatan Cipicung
19. Kecamatan Lebakwangi
20. Kecamatan Maleber
21. Kecamatan Garawangi
22. Kecamatan Sindangagung
23. Kecamatan Kuningan
24. Kecamatan Cigugur
25. Kecamatan Kramatmulya
26. Kecamatan Jalaksana
27. Kecamatan Japara
28. Kecamatan Cilimus
29. Kecamatan Cigandamekar
30. Kecamatan Mandirancan
31. Kecamatan Pancalang
32. Kecamatan Pasawaha

Permukaan tanah Kabupaten Kuningan relatif datar dengan variasi berbukit-bukit terutama Kuningan bagian Barat dan bagian Selatan yang mempunyai ketinggian berkisar 700 meter di atas permukaan laut, sampai ke dataran yang agak rendah seperti wilayah Kuningan bagian Timur dengan ketinggian antara 120 meter sampai dengan 222 meter di atas permukaan laut.

Tabel Elevasi ketinggian tanah wilayah Kabupaten Kuningan

No Ketinggian (dpl) Luas (Ha) Luas (%)
1 < 150 25.394,677 21,24
2 150-1.500 91.297,631 76,35
3 > 1.500 2.878,812 2,41

Ketinggian di suatu tempat mempunyai pengaruh terhadap suhu udara, oleh sebab itu ketinggian merupakan salah saru faktor yang menentukan dalam pola penggunaan lahan untuk pertanian, karena setiap jenis tanaman menghendaki suhu tertentu sesuai dengan karakteristik tanaman yang bersangkutan.

Kemiringan tanah yang dimiliki Kabupaten Kuningan terdiri dari : dataran rendah, dataran tinggi, perbukitan, lereng, lembah dan pegunungan. Karakter tersebut memiliki bentang alam yang cukup indah dan udara yang sejuk, sangat potensial bagi pengembangan pariwisata.

Tabel Luas kemiringan tanah Kabupaten Kuningan

No Kemiringan (%) Luas (Ha) Luas (%)
1 0 – 8 61.803,849 51,69
2 8 – 15 24.924,035 20,84
3 15 – 25 18.437,778 15,42
4 25 – 40 10.583,776 8,85
5 > 40 3.821,682 3,20

Sebagian besar tekstur tanah termasuk kedalaman tekstur sedang dan sebagian kecil termasuk tekstur halus. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap tingkat kepekaan yang rendah dan sebagian kecil sangat tinggi terhadap erosi.

Tingkat kepekaan terhadap erosi disebabkan ketidaksesuaian antara penggunaan tanah dengan kemampuannya sehingga berakibat rusaknya proses fisika, kimia dan biologi tanah tersebut. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap besar kecilnya intensitas tingkat kepekatan terhadap terhadap erosi adalah faktor : lereng, sistem penggarapan, pengolahan tanah, jenis tanah dan prosentase penutup tanah.

Tingkat kepekaan erosi di Kabupaten Kuningan diklasifikasikan menjadi lima kelas, yaitu :

  • Sangat Peka : 14.258,42 Ha
  • Peka : 17.568,96 Ha
  • Agak Peka : 20.473,43 Ha
  • Kurang Peka : 21.845,69 Ha
  • Tidak Peka : 36.307,00 Ha

Berdasarkan penelitian tanah tinjau Kabupaten Kuningan memiliki 7 (tujuh) golongan tanah yaitu : Andosol, Alluvial, Podzolik, Gromosol, Mediteran, Latosol dan Regosol.

  • Golongan tanah Andosol terdapat di bagian barat kecamatanKuningan yang cocok untuk ditanami tembakau, bunga-bungaan, sayuran, buah-buahan, kopi, kina, teh, pinus dan apel.
  • Golongan tanah Alluvial terdapat di bagian timur KecamatanKuningan, Kecamatan Kadugede bagian utara, KecamatanLebakwangi bagian utara, Kecamatan Garawangi dan Kecamatan Cilimus cocok untuk tanaman sawah, palawija dan perikanan.
  • Golongan tanah Podzolik terdapat di bagian selatan kecamatanKadugede, bagian timur kecamatan Ciniru, bagian timur kecamatan Luragung, bagian selatan kecamatan Lebakwangi dan kecamatan Ciwaru cocok untuk ladang dan tanaman keras.

Tabel Luas jenis tanah di Kabupaten Kuningan

No Jenis tanah Luas (Ha) Luas (%)
1 Alluvial kelabu 4.080,00 3,46
2 Regosol coklat kelabu 700,00 0,59
3 Asosiasi Regosol kelabu + coklat kelabu + latosol 4.072,98 3,46
4 Asosiasi andosol coklat + regosol coklat 4.560,00 3,87
5 Gromosol kelabu tua 1.840,00 1,56
6 Asosiasi Gromosol kelabu kekuningan + Gromosol coklat kelabu + regosol kelabu 13.204,31 11,20
7 Asosiasi mediteran coklat + latosol 11.569,31 9,82
8 Latosol coklat 890,00 0,76
9 Latosol coklat kemerahan 13.803,69 11,71
10 Asosiasi Latosol coklat + regosol 19.232,47 16,32
11 Asosiasi podzolik kuning + hidromorf 11.765,55 9,98
12 Asosiasi podzolik merah kekuningan + latosol merah kekuningan 13.825,82 11,73
13 Kompleks podzolik merah kekuningan + podzolik kekuningan + regosol 18.313,42 15,54

Penduduk Kabupaten Kuningan Tahun 2010 Menurut Hasil Suseda sebanyak 1.122.376 orang dengan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) sebesar 0,48% pertahun dan Angka Harapan Hidup (AHH) 70,76 tahun. Penduduk laki-laki sebanyak 580.796 orang dan penduduk perempuan sebanyak 564.801 orang dengan sex ratio sebesar 99,3 % artinya jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibanding penduduk laki-laki. Diperkirakan hampir 25% penduduk Kuningan bersifat comuter, mereka banyak yang bermigrasi ke kota-kota besar seperti JakartaBandungYogyakarta dan sebagainya.

Penduduk Kuningan umumnya menggunakan bahasa Sunda dialek Kuningan. Mayoritas Penduduk Kuningan beragamaIslam sekitar 98% (di daerah desa Manislor terdapat komunitas penduduk yang menganut aliran Ahmadiyah), lainnnya beragama Kristen Katolik yang tersebar di wilayah CigugurCisantanaCitangtu, Cibunut, sedangkan sisanya beragamaProtestan dan Budha yang kebanyakan terdapat di kota Kuningan. Di wilayah Cigugur juga terdapat penduduk yang menganut aliran kepercayaan yang disebut Aliran Jawa Sunda.

Sebagain besar penduduk kabupaten Kuningan bermatapencaharian sebagai petani (petani penggarap dan buruh tani), dan lainnya bekerja sebagai Pedagang, Pegawai negeri Sipil, TNI, Polisi, Wiraswasta dan sebagainya.

Angka beban tanggungan (Dependency Ratio) Kabupaten Kuningan tahun 2007 kondisinya tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya yaitu mencapai angka 50,00. Angka beban tanggungan (ABT) merupakan perbandngan antara penduduk yang belum/tidak produktif (usia 0 – 14 Tahun dan usia 65 tahu ke atas) dibanding dengan penduduk usia produktif (usia 15 – 64 tahun), berarti pada tahun 2007 setiap 100 penduduk usia produktif di Kabupaten Kuningan menanggung sebanyak 50 penduduk usia belum/tidak produktif. Untuk lebih lengkapnya data penduduk serta beberapa informasi demografi kami sajikan dalam tabel di bawah ini.

No Informasi Demografi 2005 2006 2007
1 Jumlah Penduduk
Total 1.069.448 1.089.620 1.102.354
Laki-laki 534.415 542.645 549.118
Perempuan 535.033 546.975 553.236
2 Laju Pertumbuhan Penduduk 2,80 1,89 1,17
3 Sex Ratio 99,8 99,2 99,3
4 Komposisi Umur
0 – 14 287.231 287.962 280.119
15 – 54 714.032 726.846 734.830
65+ 68.185 74.812 87.405
5 Angka Beban Tanggungan 0,50 0,49 0,50
Menurut data Suseda tahun 2009, persentase penduduk dewasa yang melek huruf di Kabupaten Kuningan mencapai 98,03 % sedangkan hasil Suseda 2010 menunjuken adanya perbaikan menjadi 98,27%. Begitu pula rata-rata lama sekolah, pada tehun 2009, rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Kuningan sekitar 8,33 tahun meningkat menjadi 8,68 tahun pada tahun 2010.
Persentase penduduk Kabupaten Kuningan usia 10 tahun ke atas yang berpendidikan SD ke bawah sebesar 72,66 persen; tamat SMP sebesar 13,73 persen; tamat SMU/SMK sebesar 10,88 persen; dan sebanyak 2,72 persen yang tamat pendidikan tinggi (Akademi/Perguruan Tinggi). Berarti dari 1.000 orang penduduk 10 tahun ke atas hanya 27 orang yang berkesempatan menyelesaikan pendldikan tinggi (Diploma, Akademi, Perguruan tinggi).
Adapun Pendidikan Luar Biasa untuk siswa berkebutuhan khusus kini telah banyak ditampung di sebuah lembaga pendidikan siswa berkebutuhan khusus, diantaranya SLBN Kuningan.

Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Kuningan pada tahun 2011 mencapai 5,43% lebih tinggi dibanding dengan dua tahun sebelumnya yaitu tahun 2009 sebesar 4,39% dan tahun 2010 sebesar 4,99%. Sedangkan Inflasi di Kabupaten Kuningan pada tahun 2010 berdasarkan perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 6,70%. Sementara Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Kuningan sendiri berdasarkan harga konstan tahun 2000 untuk tahun 2011 sebesar Rp. 4,2 Trilyun dan PDRB per kapita berdasarkan harga konstan tahun 2000 pada tahun 2011 mencapai Rp. 3,9 juta. Tingkat daya beli masyarakat Kuningan tahun 2010 menurut data Suseda tercatat sebesar Rp. 549 ribu. Dan tingkat pengangguran di Kabupaten Kuningan angkanya cukup besar yaitu mencapai 7,6% dari total angkatan kerja. Lapangan pekerjaan penduduk Kabupaten Kuningan masih didominasi oleh dua sektor ekonomi yaitu sektor pertanian dan perdagangan. Sektor pertanian masih merupakan lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Pada tahun 2010 dari total penduduk Kabupaten Kuningan yang bekerja, 39% bekerja di sektor pertanian dan 30% di sektor perdagangan.

Sebagai wilayah yang berada di daerah Priangan timur, kabupaten Kuningan kaya akan seni budaya Sunda yang khas, berbeda dari wilayah Sunda bagian barat. Berikut adalah seni budaya yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Kuningan:

Tabel Seni dan Budaya di wilayah Kabupaten Kuningan

No Jenis Seni Budaya Tradisional Lokasi
1 Cingcowong,Upacara minta hujan Kecamatan Luragung
2 Sintren Desa Dukuhbadag
3 Goong Renteng Kelurahan Sukamulya
4 Tayuban Kecamatan Ciniru
5 Pesta Dadung Kecamatan Subang
6 Gembyung Terbangan Desa Cilaja
7 Sandiwara Rakyat
8 Wayang Golek
9 Kuda Lumping Kelurahan Citangtu
10 Reog Desa Cengal
11 Calung Desa Cilaja
12 Tradisi Kawin Cai Kecamatan Jalaksana
13 Tari Buyung Kecamatan Cigugur
14 Balap kuda Saptonan Kecamatan Kuningan

SENI BUDAYA KUNINGAN

  1. Sapton dan Panahan Tradisional

Penyelenggara : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lokasi : Kuningan Synopsis Kegiatan : Secara etimologi dan historis, bahwa kegiatan Sapton dan Panahan Tradisional adalah acara rutin setiap hari sabtu setelah kegiatan serba raga (sidang) yang dilaksanakan disekitar istana kerajaan Kajene (Kuningan) dan mempunyai makna yang dalam seperti heroisme, ketangkasan berkuda dan panahan dalam bela negara serta kebersamaan antara pemerintah dengan rakyatnya. Dalam upaya promosi kepariwisataan daerah dan pelestarian nilai-nilai budaya tradisional daerah serta memeriahkan hari jadi Kuningan, setiap tahun pada bulan September diselenggarakan Saptonan dan Panahan Tradisional.

  1. Seren Taun

Penyelenggara : Paseban Tripanca Tunggal (P. Djati Kusuma) Lokasi : Cigugur-Kuningan Synopsis Kegiatan : Upacara Seren taun merupakan upacara masyarakat agararis adalah penyerahan hasil panen yang diterima pada tahun yang akan berlalu serta salah satu media dalam mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah yang telah diterima seiring dengan harapan agar dimasa yang akan datang, hasil panen seluruh anggota masyarakat dapat lebih melimpah lagi. Penyelenggaraan dimulai dengan upacara ngajayuk (menyambut) pada tanggal 18 Rayagung, kemudian dilanjutkan pada tanggal 22 Rayagung dengan upacara pembukaan padi sebagai puncak acara, dengan disertai beberapa kesenian tradisional masyarakat agraris sunda tempo dulu, seperti ronggeng gunung, seni klasik tarawangsa, gending karesmen, tari bedaya, upacara adat ngareremokeun dari masyarakat kanenes baduy, goong renteng, tari buyung, angkulung buncis doodog lonjor, reog, kacapi suling dan lain-lain yang mempunyai makna dan arti tersendiri, khususnya bagi masyarakat sunda.

  1. Kawin Cai

Penyelenggara : Desa Babakanmulya dan Desa Maniskidul Lokasi : Jalaksana-Kuningan Synopsis Kegiatan : Upacara Adat Kawin Cai merupakan tradisi masyarakat Desa Babakanmulya Kecamatan Jalakasana Kabupaten Kuningan untuk memohon air/turun hujan untuk mengairi lahan pertaniannya serta kebutuhan hidup lainnya, dilaksanakan apabila terjadi kemarau panjang atau sangat sulit untuk mendapat air antar bulan September, dengan mengambil lokasi searah intinya disumber mata air telaga balong Tirta Yarta pada malam Jum`at Kliwon yang pada pelaksanaannya selain dihadiri dan diikuti oleh pamong desa. Tokoh masyarakat dan masyarakat desa setempat juga oleh masyarakat desa tetangga yang lahan pertaniannya terairi atau memanfaatkan air yang berasal dari sumber mata air telaga/ Balong Dalem Tirta Yarta. Selesai berdo`a punduh/sesepuh desa mencampurkan air yang diambil dari mata air telaga/ Balong Dalem Tirta Yarta dengan air yang diambil dari mata air Cikembulan (Cibulan), inilah istilah yang dipakai masyarakat sebagai Upacara Adat Kawin Cai yang intinya mengambil barokah air dari dua sumber mata air.

  1. Pesta Dadung

Penyelenggara : Desa Legokherang Lokasi : Cilebak-Kuningan Synopsis Kegiatan : Seperti lazimnya kesenian tradisional lainnya kesenian ini tumbuh dan berkembang secara turun temurun sejak abad ke XVIII. Kesenian ini lahir di kalangan Budak Angon (Pengembala) yang intinya mengadakan syukuran setelah panen menjelang musim tanam tiba, sekitar bulan September. Dikatakan “Pesta Dadung” karena media yang digunakan dalam upacara yang sakral tersebut menggunakan Dadung (tali pengikat leher Kerbau atau Sapi).

  1. Sintren

Penyelenggara : LS. Dewi Supraba Pimp. DU. Sahrudin Lokasi : Cibingbin-Kuningan Synopsis Kegiatan : Sintren adalah jenis kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang secara turun temurun sejak ± tahun 1957. sintren berasal dari kata “ Sasantrian “ yang pada mulanya kesenian ini adalah merupakan seni hiburan rakyat yang sering di tampilkan pada sore hari sambil melepas lelah setelah seharian bekerja keras di sawah. Pada pertunjukannya peran sintren harus dibawakan oleh seorang gadis yang masih suci (belum adil balig). Begitu pula dengan pawang sintren tidak boleh diperankan oleh orang sembarangan, akan tetapi harus dibawakan oleh sesepuh semacam kiyai sehingga peran sintren yang sudah di ikat dalam kurungan akan dapat berubah memakai pakaian sintren dalam keadaan “Transparan”.

  1. Cingcowong

Penyelenggara : Pimp. Narwita Lokasi : Luragung-Kuningan Synopsis Kegiatan : Cingcowong adalah salah satu Upacara ritual untuk meminta hujan (zaman dulu)upacara in dilakukan pada saat musim kemarau panjang ± 3 bulan tardisi awal Cingcowong atau uapacara ritual ini dipercayi oleh masyarakat khususnya Kecamatan Luragung setiap datag kemarau upacara ritual Cingcowong selalu dilaksanakan agar lahan pertanian mereka terhindar dari kemarau dan turrun hujan.

 

Sebagai sebuah Kabupaten, Kuningan dipimpin oleh seorang bupati. Bupati sebelumnya dipilih oleh DPRD. Tetapi untuk tahun 2008, pertama kalinya Kabupaten Kuningan mengadakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Bupati secara langsung. Pilkada ini diikuti oleh tiga pasangan, yang dimenangkan oleh incumbent H. Aang Hamid Suganda. Berikut adalah daftar nama-nama bupati yang pernah memimpin Kabupaten Kuningan

No Nama Periode
1 Aom Adali 1919-1921
2 Mohamad Ahmad 1921-1940
3
  1. Umar Said
1940-1942
4 Rifai 1942-1945
5 Noer (Bupati RI) 1945-1951
6 Sodikin (Recomba) 1947-1948
7 Holan (Recomba) 1948-1949
8 Tikok Abdrurohman 1951-1952
9 Sumitra 1952-1954
10 TB amin Abdulah 1954-1957
11 Yusuf (Pejabat) 1957-1958
12 Saleh Alibasyah 1958-1961
13 Uman Jatikusumah 1961-1966
14 Suminta (Pejabat) 1966-1967
15
  1. Aruman Wirangganapati
1967-1973
16 Karli Akbar 1973-1978
17 R.H Unang Sunarjo S.H 1978-1983
18 Drs. H. Moch. Djufri Pringadi 1983-1988
19 Drs. H. Subandi 1988-1993
20
  1. Yeng D.S Partawinata SH
1993-1998
21 Drs. H. Arifin Setiamihardja MM 1998-2003
22
  1. Aang Hamid Suganda, S.Sos.
2003-2008
23
  1. Aang Hamid Suganda, S.Sos.
2008-2013
24 Hj. Utje Ch. Hamid Suganda, S.Sos., M.Ap. 2013-2018
  • Jalan Darat

Total jalan darat di Kabupaten Kuningan adalah sepanjang 446,10 Km

  • Listrik

Jumlah pelanggan yang telah terdaftar hingga tahun 2002 adalah sebanyak 773.747 pelanggan (Unit Pelayanan Cirebon)

  • Telekomunikasi

Pelanggan PT. Telkom untuk daerah Kabupaten Kuningan masuk ke dalam Kandatel Cirebon yakni sebanyak 1.202 pelanggan (Tahun 2002)

  • Sarana Kesehatan
  1. Rumah sakit terdapat 6 buah, 1 milik Pemda dan 5 milik swasta
  2. Puskesmas Pembantu = 70 buah
  3. Puskesmas = 28 buah
  4. Puskesmas dengan fasilitas tempat perawatan = 6 buah
  5. Balai pengobatan swasta = 33 buah
  • Pos Pelayanan Terpadu
  1. 762 Pos Pelayanan Terpadu pratama
  2. 467 Pos Pelayanan Terpadu madya
  3. 89 Pos Pelayanan Terpadu purnama
  4. 7 Pos Pelayanan Terpadu mandiri
  • Tenaga Kesehatan
  1. Dokter umum 54 orang dan dokter spesialis 43 orang
  2. Dokter gigi 19 orang
  3. Bidan yang ada terdapat 321 orang bidan
  • Sarana dan Prasarana Pendidikan
  1. Taman Kanak-Kanak : 211 buah
  2. Sekolah Dasar : 685 buah
  3. Sekolah Menengah Pertama : 88 buah
  4. Sekolah Menengah Umum 27 buah
  5. Sekolah Menengah Kejuruan : 31 buah
  • Hotel
  1. Hotel Berbintang : 3 buah
  2. Hotel Non Berbintang : 35 buah
  • Bank
  1. Bank Pemerintah : 5 buah
  2. Bank Swasta : 7 buah
  3. Bank Pembangunan Daerah : 1 buah
  4. Bank Perkreditan Rakyat : 8 buah
Kuningan mempunyai salah satu stadion kebanggaan yaitu Stadion Mashud Wisnusaputra yang merupakan markas dari tim kesayangan kota Kuningan yaitu Pesik Kuningan. Pesik Kuningan saat ini bertanding pada Divisi I PSSI. Terletak persis di pusat kota Kuningan, stadion ini sangat strategis karena dapat dicapai dari seluruh penjuru kabupaten. Stadion Mashud Wisnusaputra mempunyai kapasitas sebesar 10.000 penonton, termasuk ke dalam stadion kategori D+ untuk tingkat nasional. Pernah dipakai sebagai homebase klub peserta IPL (Indonesian Primer League) asal Bandung yaitu Bandung FC pada IPL tahun 2010-2011. Stadion ini juga kerap dijadikan sebagai tempat latih tanding klub-klub peserta ISL seperti Persib Bandung dan Persija Jakarta. Untuk tahun 2013 dijadikan sebagai hombase klub peserta ISL (Indonesia Super League) Persita Tangerang. Di dalam kompleks stadion Mashud Wisnusaputra terdapat gelanggang basket, tenis lapangan, lapangan volley ball dan lintasan atletik, juga terdapat wisma yang representatif.
Selain itu di Luragung terdapat kolam renang Tirta Agung Mas salah satu kolam renang Olympic Size terbaik di Jawa Barat

Wisata Alam
• Talaga Remis
• Wisata Ikan Dewa Cibulan
• Taman Wisata Alam Linggajati
• Waduk Darma
• Darmaloka
• Sangkanhurip
• Desa Sitonjul
• Air Terjun Sidomba
• Curug Cilengkrang
• Palutungan & Curug Putri
• Curug Ngelay
• curug Bangkong
Wisata Budaya
• Taman purbakala Cipari
• Gedung Perundingan Linggarjati
• Situs Sanghiang Sagarahiang
Wisata Hutan
• Desa Setianegara
• Desa Jabranti
Wisata Ziarah
• Cibulan
• Balong Keramat Darmaloka
• Goa Maria
Wisata Adat
• Seren Taun
• Pesta Dadung

• Batu Ony
• Batu Granit
• Suiseki
• Bonsai
• Cincin
• Peti Antik
• Calung

MAKANAN KHAS KUNINGAN

Pulang dari Kuningan pasti bawa seabrek oleh-oleh dari mulai peuyeum, jeniper, opak bakar, keripik pisang, raginang dsb. Makanya kalo pulang sudah pasti bawa tas kosong tambahan, biar nanti baliknya jadi khusus buat tas oleh-oleh.
Sebenernya beberapa makanan khas Kuningan mungkin akan kita temui juga didaerah lain. Bahkan lazim disebut sebagai jajanan pasar. Mungkin saja jenisnya sama tapi rasanya atau namanya berbeda. Tapi ada juga yang  benar-benar asli khas Kuningan. Lalu apa saja sih makanan camilan/ kudapan oleh-oleh khas Kuningan itu. Ayo kita list satu persatu:

Peuyeum Ketan

Dari namanya pasti sudah pada tahu kalau peuyeum atau tape ini terbuat dari beras ketan, biasanya ketan yang digunakan adalah ketan putih kadang ada juga yang menggunakan ketan hitam. Beras ketan yang sudah dikukus dan dikasih aroma dari beberapa daun khusus kemudian difermentasi menggunakan ragi dan dibungkus dengan daun jambu air. Butuh 3-4 hari sampai peuyeum matang dan siap dikonsumsi. Selain rasanya yang khas, dan aromanya yang unik, peuyeum ketan Kuningan biasanya disimpan dalam kemasan ember sedang hitam berisi 100 buah peuyeum, namun demikian sekarang ada juga dalam kemasan kardus kecil ataupun kemasan palstik. Yang terkenal adalah peuyeum ketan Cibeureum dengan merk Pamella.

Opak Bakar Spesial

Opak bakar ini terbuat dari komposisi beras ketan, kelapa, garam dan air yang dibentuk dan dipotong-potong tipis seperti keripik  lalu dibakar. Opak ini berbeda dari opak biasanya yang berbentuk bulat dan agak tebal. Opak Bakar Spesial ini berbetuk persegi panjang, lebih tipis dan renyah. Biasanya dibungkus dalam kemasan plastik terdiri dari sekitar 50 keripik dan kemasan luarnya dalam bentuk kardus kecil.  Rasanya yang asin dan gurih sangat cocok untuk cemilan ditemani dengan segelas teh manis atau kopi panas. Opak Bakar Spesial yang terkenal yaitu OBS Dewi Merauke.

Jeniper

Jeniper singkatan dari Jeruk Nipis Peras adalah minuman khas dari Kuningan tentunya dengan bahan baku jeruk nipis dan gula pasir (selain Jeniper ada juga minuman serupa dengan nama Jenisa – Jeruk Nipis Asli-, bedanya minuman ini ditambah dengan madu). Minuman ini sangat segar apalagi jika disajikan dalam keadaan dingin tapi baik juga dalam keadaan hangat, jadi tergantung dengan selera masing-masing. Minuman ini mengandung banyak Vitamin C dan tanpa bahan pengawet sehingga aman dikonsumsi dan sangat bermanfaat agar tubuh kita tetap fit juga dapat menyembuhkan beberapa penyakit akibat kekurangan vitamin C seperti sariawan, panas dalam, sakit tenggorokan dan flu sampai masuk angin. Tersedia dalam kemasan botol besar dan botol kecil. Kadang juga dikasih aksessoris anyaman bambu pada botolnya agar bisa mudah ditenteng. Pusat dari produksi Jeniper dan Jenisa yaitu di desa Ciawigebang.

Raginang

Raginang adalah makanan khas sejenis keripik yang terbuat dari beras ketan yang dikukus dengan rempah tertentu yang dikeringkan/dijemur kemudian digoreng. Biasanya dicetak dengan bentuk bulat atau lonjong.  Selain rasa yang original baik asin maupun manis sekarang sudah tersedia raginang dengan berbagai rasa seperti keju, pedas, dan rasa lainnya. Biasanya raginang aneka rasa tersebut sudah dibungkus dengan kemasan plastik.

Keripik Gadung

Keripik Gadung adalah keripik yang terbuat dari sejenis umbi yang bernama gadung. Tanaman Gadung (Discorea Hispida) banyak tumbuh di ladang-ladang perkebunan di Kuningan. Tidak semua orang yang bisa mengolah gadung menjadi keripik, karena jika tidak diolah dengan benar bisa menjadi beracun. Untuk menghilangkan racunnya Umbi Gadung yang sudah dibersihkan dan diiris tipis kemudian diperam dengan abu baru dijemur. Keripik Gadung rasanya khas dan tidak terlalu keras teksturnya berbeda dengan keripik umbi ataupun keripik ketela pohon.

Emping

Emping adalah makanan kecil yang terbuat dari biji melinjo (Gnetum Gnemon) atau dalam bahasa Sunda disebut tangkil. Melinjo dipipihkan (dipeprek) dengan ukuran yang bervariasi ada yang kecil dan ada yang besar tergantung selera. Emping melinjo sudah diolah dengan berbagai rasa ada yang manis, asin dan pedas. Biasanya emping dengan aneka rasa hanyalah untuk emping dengan ukuran kecil saja, sedangkan untuk emping ukuran besar biasanya dengan rasa original sebagai teman makan nasi. Emping melinjo aneka rasa sudah dikemas dalam kemasan plastik. Emping Melinjo yang terkenal dari Kuningan adalah Emping melinjo produksi dari desa Karangtawang.

Gemblong

Gemblong/Kecimpring adalah keripik yang terbuat dari ketela pohon yang diolah dengan berbagai bahan lain sehingga menjadi keripik yang gurih. Gemblong akan semakin nikmat sebagai teman makan baso, soto, mie ayam ataupun mie goreng. Rasa rempah yang khas dan tekstur keripik yang renyah membuat gemblong mempunyai cita rasa tersendiri. Gemblong Kuningan memang berbeda dengan gemblong dari daerah lain yaitu berupa makanan manis dengan bahan baku utama beras ketan. Jadi mungkin kita akan salah persepsi apabila menyebut gemblong, antara keripik dan kue.

Jawadah

Jawadah adalah makanan sejenis dodal dengan bahan utama beras ketan, gula merah, dan parutan kelapa. Jawadah  berbeda dengan jenis dodol, baik dari rasa maupun bentuknya. Jawadah dibuat dalam ukuran besar kemudian dipotong-potong menjadi ukuran yang lebih kecil. Jawadah, rasanya tidak terlalu manis, tetapi tetap legit. Jawadah pun biasa disebut dodol keureut (potong) karena bentuknya sudah dipotong-potong seperti koin tebal

Papais

Papais adalah makanan yang terbuat dari bahan baku beras ketan atau ketela pohon yang dibungkus dengan daun pisang.  Untuk Papais yang terbuat dari beras ketan ada  papais bugis yang berisi adonan parutan kelapa dan gula aren, ada papais monyong berbentuk kerucut dengan isi enten kacang hijau, ada papais koci yang berwarna hijau dengan enten gulamerah dan parutan kelapa dan  ada papais beureum yang berwarna merah tanpa isi. Kalau papais yang terbuat dari ketela pohon adalah nagasari yang dalamnya buah pisang atau cuma papais tanpa isi yang rasanya asin.

Leupeut

Leupeut adalah makan yang terbuat dari beras ketan dan sari kelapa kemudian dibungkus dengan daun kelapa muda yang dilipat dua ujungnya dan diikat dengan tali bambu. Leupeut rasanya gurih dan kenyal, cocok dimakan dengan ditemani kuping, ketempling, raginang, gemblong dan berbagi keripik lainnya.

Koecang

Koecang adalah makanan sejenis bacang yang terbuat dari beras ketan yang dipadatkan, dicampur dengan sari apu dan dibungkus dengan daun bambu. Sehelai daun bambu melindungi isi dari tiga sisi, diakhiri dengan memasukkan tangkai daunnya ke dalam bagian ujung balutan yang agak terbuka dan terakhir diikat dengan tali bambu sehingga mudah ditenteng. Isi koecang adalah beras ketan berwarna kuning. Sama halnya dengan leupeut koecang cocok dimakan dengan ditemani kuping, ketempling, raginang, gemblong dan berbagi keripik lainnya.

Wajit Subang

Wajit Subang adalah makanan yang terbuat dari beras ketan,  gula merah dan kelapa yang diolah kemudian dibungkus dengan cangkang buah jagung atau kulit pohon pinang yang sudah dikeringkan. Rasanya manis dan legit cocok sebagai teman minum teh atau kopi.

Ketempling

Ketimpling adalah makanan sejenis gemblong dengan ukuran yang lebih kecil. Ketempling rasanya sama seperti gemblong cuma bentuknya bulat kembung kosong bagian tengahnya. Seperti gemblong ketimpling juga akan semakin nikmat sebagai teman makan baso, soto, mie ayam ataupun mie goreng.

Keripik Ubi

Seperti namanya keripik ini terbuat dari ubi ungu dengan berbagai aneka rasa. Ubi Ungu banyak dibudidayakan di Kuningan sehingga tidak hanya untuk direbus tapi juga diolah menjadi berbagai panganan lainnya seperti berbagai jenis keripik, keremes, dan kue.

Kopi Luwak

Kopi Luwak Linggarjati
Kopi Luwak berasal dari kopi yang diambil dari kotoran luwak yang sengaja dibudidayakan di sekitar gunung Ciremai tepatnya daerah Linggarjati. Kopi Luwak terkenal karena rasa juga aromanya yang khas selain harganya yang mahal. Ada kepuasan tersendiri bagi para penikmatnya dalam menikmati secangkir kopi luwak.

kuping

Kuping Gajah/Rempeyek/Ronge-Ronge adalah makanan sejenis  keripik dengan bahan baku campuran antara tepung beras, air santan, kemiri, ketumbar, kencur, garam  yang ditaburi kacang baik kacang tanah, kacang kedelai ataupun kacang hijau kemudian digoreng. Rasanya gurih dan garing krenyes-krenyes, cocok dijadikan camilan.

 

Kelepon/Onde-onde
Kelepon/Onde-onde adalah kue yang terbuat dari tepung ketan yang dibentuk bulat menyerupai kelereng dengan isi gula merah dan dikasih parutan kelapa dibagian luarnya. Biasanya kelepon dikasih pewarna makanan baik hijau maupun merah. Kelepon rasanya manis dan kenyal.

Cuhcur

Cuhcur adalah kue yang terbuat dari adonan beras ketan, gula merah, gula pasir dan santan yang digoreng. Rasanya manis dan agak keras. Cocok dijadikan camilan teman minum teh dan kopi.

Awug

Awug adalah makanan yang terbuat dar tepung beras, parutan kelapa, daun pandan dan gula merah. Bentuknya menyerupai tumpeng berupa gunungan kecil. Rasanya manis dan berserat.

Hampir mirip Awug, hadas adalah makanan sejenis kue dengan bahan baku utama beras ketan dan kelapa. Rasanya manis dan berserat.

Sale Pisang

Sale Pisang adalah camilan dengan bahan baku utama pisang matang diiris kemudian dijemur untuk mengurangi kadar airnya dan lebih tahan lama. Kemudian pisang dengan adonan tepung digoreng. Selain rasa yang original ada beberapa pilihan rasa diantaranya adalah pisang sale rasa keju.

Keripik Pisang

adalah keripik yang dibuat dari pisang mentah yang diiris-iris tipis kemudian digoreng. Jenis pisang yang sering digunakan biasanya adalah pisang kepok kuning segar. Irisannya ada dipotong-potong membentuk lingkaran ataupun memanjang. Rasanya ada yang asin dan ada yang manis tergantung selera.

Keripik Singkong

Keripik Singkong adalah makanan yang terbuat dari singkong/ketela pohon yang diiris tipis-tipis kemudian di goreng. Ada beberapa pilihan rasa diantaranya keju, pedas, dan asin.

Sasagon (Kue Kelapa)
Sasagon adalah kue dengan bahan baku tepung beras ketan dan kelapa.

Opak Beca
Beca adalah keripik yang terbuat dari singkong dengan ukuran yang besar berbentuk lonjong atau bulat.

Ampyang

Ampyang adalah makanan yang dibuat dengan bahan baku utama kacang tanah dan gula merah.

Moho

Moho adalah makanan sejenis bakpau dengan isi kelapa dan gula merah, namun adapula yang berisi kacang hijau. Ukurannya lebih kecil dar bakpau, berwarna putih atau hijau.

Golono adalah gorengan khas dari Luragung.

Gendar

Gendar adalah keripik yang terbuat dari sisa nasi yang dikeringkan/dijemur kemudian dibentuk menjadi adonan keripik dan diiris tipis lalu digoreng.
Jaletot
Raragudig

Kue Satu

Kue Satu adalah kue yang terbuat dari kacang hijau yang disanggrai dan dihaluskan dicampur dengan gula halus kemudian dicetak.
Kodowel
Ketan Uli

Bakasem Kadongdong

Bakasem Kadongdong adalah manisan yang terbuat dari buah kedongdong.

Apem

Apem adalah makanan yang dibuat dari tepung beras ketan, gula, santan kelapa, ragi yang dibentuk manjadi adonan dan dicetak kemudian dibakar sampai matang dan mengembang. Teksturnya lembut dan berpori.
Angling

Rarawuan

Rarawuan adalah makanan sejenis bakwan atau bala-bala, dengan bahan baku kacang hitam, kelapa kering dan terigu.

 

Wiwingka

Wiwingka adalah kue berwarna kuning manis dan berserat. Makanan ini teksturnya legit dan cocok dimakan bersama teh hangat.

Tahu Lamping

Tahu lamping adalah tahu asli Kuningan, berbeda dengan tahu Sumedang tahu ini lebih padat dan berisi juga memiliki rasa gurih yang khas. Rasanya yang khas konon karena proses pembuatannya yang menggunakan mata air di desa Cigadung yang berada di lamping (lereng) gunung Ciremai. Yang paling terkenal adalah tahu lamping Kopeci (Koperasi Pemuda Cigadung) berada di Jl. Veteran Jagabaya.

Putri Noong

Putri Noong adalah kue yang terbuat dari parutan singkong dan pisang nangka lalu dibaluri oleh parutan kelapa.
Kacang Sangrai cap Merpati

kacang sangrai cap merpati adalah kacang sangrai khas kota kuningan yang di produksi di desa Geresik Kec. Ciawigebang. Rasa nya beda dengan kacang sangrai lainnya. pemasaran hanya ada di wilayah kuningan. apabila anda berminat dan sulit mendapatkannya..datang langsung ke pabriknya yang berada di desa Geresik.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>