Profile Kabupaten Cirebon

Kabupaten Cirebon adalah sebuah kabupaten di Jawa Barat yang terletak di bagian timur yang berbatasan dengan Jawa Tengah. Dalam sektor pertanian, kabupaten Cirebon merupakan salah satu daerah produsen beras yang terletak di jalur pantura.

BupatiSejarahGeografiPembagian AdministratifKependudukanSeni dan BudayaPerguruan TinggiBahasaTransportasiSarana PrasaranaObyek WisataMakanan Khas

1. 1800-1808 R. Sinuk (Muchamad)
2. 1808-1828 R. Ngabei Suradiningrat
3. 1828-1843 Kanjeng Kyai R. Adipati Baudenda Suradiningrat
4. 1843-1847 R. Tumenggung Baudenda Suradiningrat
5. 1847-1877 R. Adipati Surya Dirja
6. 1877-1902 R. Adipati Suraadiningrat
7. 1902-1918 R. Adipati Salmon Salam Suryadiningrat
8. 1920-1927 R.M. Panji Aryiodinoto
9. 1928-1942 R.Tg. Suriadi (Aria, Adipati, Pangeran)
10. 1942-1943 M. Sewaka
11. 1943-1945 M. Oemar Said
12. 1945-1947 Mr. R. Ma’mun Sumadipraja
13. 1947-1950 R. Sidik Baratadirdja
14. 1950-1951 R. Mochamad Michrad
15. 1951-1954 M. Radi Martadinata
16. 1954-1956 R. Moestofa Soerjadi
17. 1956-1957 R. Djoko Sa’id Prawiro Widjojo (Pj. Bupati)
18. 1957-1958 R. Sulaeman Tanudiradja (Kepala Daerah)
19. 1957-1958 Machbub Badjurie (Kepala Daerah)
20. 1958-1960 R. Kamar Suriawidjaya (Pj. Bupati Cirebon)
21. 1960-1965 R. Harum Zainal Abidin
22. 1965-1966 R. Soemitro (Pj. Bupati Kepala Daerah Cirebon)
23. 1966-1973 Kol. Inf. H. R. Anwar Soetisna
24. 1973-1978 Kol. Inf. Hasan Soegandhi
25. 1978-1983 Drs. H. Mr. Gunawan Bratasasmita
26. 1983-1988 Kol. Caj. H. Memed Tohir
27. 1988-1993 Kol. Art. H. Suwendho
28. 1993-1998 Kol. Kav. H. Rachmat Djoehana
29. 1998-2003 H. Sutisna, S.H.
30. 2003-2008 Drs. H. Dedi Supardi, M.M.
31. 2008-2013 Drs. H. Dedi Supardi, M.M.
32. 2014-2019 Drs. H. Sunjaya Purwadi Sastra, M.M., M.Si.

Masa Kerajaan Salakanagara

batutulisAwal Sejarah bermunculnya kerajaan-kerajaan di Indonesia ini adalah berdirinya Kerajaan Salakanagara yang muncul sekitar permulaan abad masehi sekitar tahun 300 Masehi . Yaitu adalah sebuah kerajaan yang kemudian akan menjadi cikal bakal tumbuhnya kerajaan-kerajaan lain, baik di barat Jawa maupun di Nusantara. Kerajaan ini merupakan kerajaan tertua di barat Jawa. Salakanagara berarti “negeri perak”. Kata “perak diambil dikarenakan lokasi kerajaan itu berdekatan dengan Gunung Salak yang di langitnya selalu terlihat keperak-perakan apabila sinar matahari sedang memancar terang. Ibukota kerajaan ini bernama Rajatapura (artinya kota perak, sekarang berada di wilayah Teluk Lada, Pandeglang) atau dalam catatan Yunani disebut dengan sebutan Algire.

Wilayah daratan yang menjadi kekuasaan Salakanagara, meliputi Jawa bagian barat dan semua pulau di sebelah barat Jawa. Sedangkan kekuasaan lautnya meliputi laut diantara pulau Jawa dan Sumatera.

Setiap pesisir pantai yang menjadi kekuasaan Salakanagara dijaga oleh pasukan, sehingga perahu-perahu yang datang dari timur maupun barat harus berhenti dan membayar upeti kepada Salakanagara.

Meskipun tercatat sebagai negara maritim, tapi Salakanagara juga memiliki sistem pertanian yang menggunakan cara berladang. Kepala Negara Salakanagara dipimpin dengan gelar Dewawarman. Pada tahun 400 an pamor dari Kerajaan Salakanagara mulai redup digantikan dengan Kerajaan Tarumanagara.

Masa Kerajaan Tarumanagara

Pada abad ke-4 Masehi, Tatar Sunda dan beberapa wilayah Nusantara lainnya berdatangan sejumlah pengungsi dari India akibat terjadi peperangan besar di sana. Para pengungsi itu umumnya berasal dari daerah Kerajaan Palawa dan Calankayana di India, pihak yang kalah dalam peperangan melawan Kerajaan Samudragupta (India).
tarumanagaraSalah satu dari rombongan pengungsi Calankayana dipimpin oleh seorang Maharesi yang bernama Jayasingawarman. Setelah mendapatkan persetujuan dari raja yang berkuasa di barat Jawa (Dewawarman VIII, raja Salakanagara), maka Jayasingawarman membuka tempat pemukiman baru di dekat sungai Citarum. Pemukimannya oleh Jayasingawarman diberi nama Tarumadesya (desa Taruma). Sepuluh tahun kemudian desa ini banyak didatangi oleh penduduk dari desa lain, sehingga Tarumadesya menjadi besar. Akhirnya dari wilayah setingkat desa berkembang menjadi setingkat kota (Nagara). Semakin hari, kota ini semakin menunjukan perkembangan yang pesat, karena itulah Jayasingawarman kemudian membentuk sebuah Kerajaan yang bernama Tarumanagara.

 

Masa Kerajaan Sunda-Galuh (Pakuan Padjajaran)

Pada akhir kerajaan Tarumanagara dipimpin oleh Raja bernama Tarusbawa. Untuk meningkatkan pamor kembali Kerajaan Tarumanagara memerintahkan untuk mengganti nama Kerajaan menjadi Kerajaan Sunda sekaligus berpindah tempat Ibukotanya ke wilayah Pakuan , saat ini namanya Bogor. Namun dengan berpindahnya ibukota dan nama kerajaan berubah, kerajaan yang memiliki pertalian persaudaraan di Kerajaan Galuh di Ciamis memilih berpisah dengan Raja Tarusbawa.

Sehingga Kerajaan Tarumanagara terbelah menjadi dua yaitu Kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh dan Sungai Citarum sebagai batas kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.

Pada jaman pemerintahan Sanjaya Kerajaan Sunda dan Galuh bergabung kembali menjadi Kerajaan Sunda Galuh abad ke 7. Dan pada akhirnya selain kerajaan Sunda dan Galuh, juga sebagai raja di kerajaan Kalingga , yaitu Kerajaan Matarram Kuno sebagai cikal bakal Kerajaan-kerajaan di tanah Jawa tengah dan Jawa Timur. Akhirnya Kerajaan di Jawabarat diserahkan kepada putranya yaitu Brawijaya.

Kerajaan Galuh juga disebut juga Kerajaan Gajah karena memiliki pasukan Gajah yang kandang dan pasukannya berada di daerah Palimanan sekarang ini.Nama lain dari Kerajaan Sunda Galuh juga disebut dengan Pakuan Padjajaran. Berdasarkan Historis Kerajaan Pakuan Padjadjaran yang berdiri tahun 669 oleh Sang Prabu Tarusbawa Di Pakuan yang merupakan Pusat Pemerintahan dibangun 5 buah Keraton dengan bentuk dan ukuran sama serta ditempatkan berjajar yang diberi nama Bima –Punta – Narayana – Madura – Suradipati. Dari sinilah nama Padjadjaran diambil (Keraton yang Berjajar).

Pada masa Pemerintahan Sri  Baduga Maharadja Prabu Siliwangi Sang Ratu Dewata Wisesa dengan nama lahir PAMANAHRASA atau JAYADEWATA yang merupakan RAJA SUNDA PAKUAN PADJADJARAN KE 36  mengalami Puncak Kejayaan dengan jumlah penduduk 48.271 jiwa yang  hidup damai Gemah Ripah Loh Jenawi  Tata  Tentram Kertaraharja dilandasi dengan sifat dan sikap saling SILIH ASAH – ASIH – ASUH  sehingga Negara Tetangga menjulukinya dengan nama ‘ THE KINGDOM OF SUNDA IS JUSTLY GOVERNED (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil).

 

 

Masa Muda Raden Pamanahrasa (Prabusiliwangi)

Kisah Prabu Siliwangi sangat dikenal dalam sejarah Sunda sebagai Raja Pajajaran. Salah satu naskah kuno yang menjelaskan tentang perjalanan Prabu Siliwangi adalah kitab Suwasiti. Kitab yg di tulis dengan menggunakan bhs.sunda kuno di dalam selembar kulit Macan putih yg di temukan di desa pajajar Rajagaluh Majalengka Jawa Barat.

Pada masa mudanya dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa. Sejak kecil beliau Diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru pelabuhan Muara Jati di kerajaan Singapura (sebelum bernama kota cirebon), kerajaan kecil yang dikuasai oleh Kerajaan Galuh. Setelah Raden pemanah Rasa Dewasa & sudah cukup ilmu yg di ajarkan oleh ki Gedeng Sindangkasih. Beliau kembali ke kerajaan Gajah ( Kerajaan Galuh ) untuk Mengabdi kepada ayahandanya prabu Angga Larang/dewa Niskala. Setelah itu Raden pemanah Rasa Menikahi Putri  Ki Gedeng Sindangkasih yg bernama nyi Ambet kasih.

Penyabaran Islam di wilayah Muara Jati (sekarang wilayah Cirebon)

Diceritakan seseorang putra Ulama besar Mekkah bernama Syekh Quro, putra dari seorang penyebar agama Islam di negeri Campa (Kamboja) yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih keturunan dari Sayidina Hussen Bin Sayidina Ali RA dan Siti Fatimah putri Rosulullah SAW. Sebelum Beliau datang ke tanah jawa sekitar tahun 1409 Masehi, Syekh Quro pertama kali menyebarkan Agama islam di negeri Campa Kamboja . Lalu ke daerah Malaka dan dilanjutkan ke daerah Martasinga, Pasambangan dan Japura, akhirnya sampailah ke Pelabuhan Muara Jati yg saat itu syahbandar di gantikan oleh Ki Gedeng Tapa karena Ki Gedeng Sindangkasih telah Wafat.

Disini beliau Syekh Quro disambut dengan baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati (yang masih keturunan Prabu Wastu Kencana Ayah dari Prabu Anggalarang) dan  oleh masyarakat sekitar. Mereka sangat tertarik dengan
ajaran yang disampaikan oleh Syekh Quro yang di sebut ajaran agama Islam.
Pada suatu Hari Prabu AnggaLarang Geram karena banyak dari penduduknya di Muara Jati yg beragama Hindu Pindah keagama Baru yg Dibawa oleh Alim Ulama dari Campa kamboja bernama Syekh Quro, Agama tersebut Bernama Islam. Maka di utuslah beberapa orang kepercayaannya untuk mengusir Ulama itu dari tanah jawa. Konon kabarnya, Ulama besar yang bergelar Syekh Qurotul’ain dengan nama aslinya Syekh Mursyahadatillah atau Syekh Hasanudin.beliau adalah seorang yang arif dan bijaksana dan termasuk seorang ulam yang hafidz Al-qur’an serta ahli Qiro’at yang sangat merdu suaranya. Sampailah para utusan itu di depan pondokan Syech Quro. Utusan itu menyampaikan perintah dari Rajanya Agar penyebaran agama Islam di muara jati harus segera dihentikan. Perintah dari Raja Gajah ( Galuh ) tersebut dipatuhi oleh Syeh Quro, namun kepada utusan prabu Anggalarang yang mendatangi Syekh Quro, beliau mengingatkan,meskipun ajaran agama Islam dihentikan penyebarannya , tapi kelak, dari keturunan Prabu Anggalarang akan ada yang menjadi seorang Wali Allah.

Beberapa saat kemudian beliau pamit pada Ki Gedeng Tapa untuk kembali ke negeri Campa,di waktu itu pula Ki Gedeng Tapa menitipkan putrinya yang bernama Nyi Mas Subang Larang,untuk ikut dan berguru pada Syekh Quro. BerangkatLah Syeh Quro bersama Nyi subang Larang dngn menggunakan Perahu kembali ke negri campa kamboja.

Diangkatnya Raden Pamanahrasa menjadi Raja Kedua dari Kerajaan Gajah (Galuh)

Setelah menikahi Nyi Ambet Kasih Putri dari Ki Gedeng Sindangkasih, sebagai seorang Putra Raja beliau tidak betah tinggal diam di Istana. Raden Pamanah Rasa kerap mengembara menyamar jadi Rakyat jelata dari daerah satu ke daerah lainnya. Menolong yang lemah dan memberantas keangkaramurkaan. Gemar bertapa dan mencari kesaktian. Di dalam salah satu pengembarannya, Ketika beliau hendak beristirhat di Curug atau air terjun, curug itu bernama Curug Sawer yg terletak di daerah Majalengka, Raden pemanah Rasa dihadang oleh siluman Harimau Putih Pertempuran pun tak terelakkan.

Raden Pamanah Rasa dan Siluman Harimau Putih yang diketahui memiliki kesaktian tinggi itu pun bertarung sengit hingga Setengah Hari,Namun kesaktian Prabu Pamanah Rasa berhasil memenangi pertarungan dan membuat siluman Harimau Putih tunduk kepadanya. Harimau Putih itu memberi sebuah pusaka yg terbuat dari kulit Macan,
Dengan pusaka itu beliau bisa Terbang Laksana burung, menghilang tak terlihat oleh mata (ajian Halimun), berjalan secepat angin (Ajian saepi Angin) dan bisa mendatangkan bala tentara Jin. Harimau itupun memutuskan untuk mengabdi kepada Raden Pamanah Rasa sebagai pendamping beliau. Dengan tunduknya Raja siluman Harimau Putih,maka meluaslah wilayah kerajaan Gajah (Galuh). Siluman Harimau Putih beserta pasukannya selanjutnya dengan setia mendampingi dan membantu Raden Pamanah Rasa. Salah satunya bantuannya adalah kerajaan Gajah ( Galuh) dapat menundukkan kerajaan2 yg memeranginya. Siluman Harimau Putih juga turut membantu Raden Pamanah rasa saat kerajaan Pajajaran diserang oleh pasukan Mongol pada Masa kekaisaran Kubilai khan.
Karna Jasa-jasa Anaknya yg begitu besar dalam Kejayaan kerajaan gajah (Galuh) ,maka diangkatlah Raden pemanah Rasa sebagai Raja kedua di kerajaan tersebut.
Prabu Pamanah Rasa pun selanjutnya mengubah nama kerajannya menjadi
kerajaan Pajajaran.

siliwangiYang berarti juga menjajarkan atau menggabungkan kerajaan Gajah (Galuh) dengan kerajaan Harimau Putih. Seiring meluasnya wilayah kerajaan Gajah (Galuh) , Prabu Pamanah Rasa kemudian membuat senjata sakti yang pilih tanding. Beliau menyuruh Eyang Jaya Perkasa untuk membuat senjata pisau berbentuk harimau sebanyak tiga Buah,Dalam Tiga Warna, yaitu Kuning, Hitam, Putih. Senjata pertama yang berwarna hitam,dibuat dari batu yang jatuh dari langit yang sering disebut meteor, yang dibakar dengan kesaktian Prabu Pamanah Rasa Dalam membentuk besi yang diperuntukkan untuk membuat senjata tersebut.

Masuk Islam nya Prabu Pamanahrasa (Prabusiliwangi)Berita kedatangan kembali Syekh Quro, rupanya terdengar oleh Prabu Anggalarang yang pernah melarang penyebaran agama islam di muara jati, sehingga Prabu Anggalarang mengirim utusannya.untuk menutup pesantren Syekh Quro dengan paksa.
utusan yang datang itu adalah Putra Mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa.

Sesampainya di depan pesantren Raden pemanah Rasa tertambat hatinya oleh alunan suara merdu yang dikumandangkan oleh Nyi Subang Larang,”Saat menlantunkan Ayat-ayat Al-Qur’an,” Prabu Pamanah Rasa akhirnya mengurungkan niatnya untuk menutup pesantren tersebut. Atas kehendak yang Maha Kuasa Prabu Pamanah Rasa, menaruh perhatian khususnya pada Nyi Subang Larang yang cantik dan merdu suaranya. Beliau pun menyampaikan keinginanya untuk mempersunting Nyi Subang Larang sebagai permaisurinya.
Pinangan tersebut diterima tapi, dengan syarat mas kawinnya yaitu Lintang Kerti Jejer Seratus, yang di maksud itu adalah simbol dari Tasbeh yang merupakan alat untuk berdzikir.

Selain itu, Nyi Subang Larang mengajukan syarat lain agar kelak anak-anak yang lahir dari mereka harus menjadi Raja. Seterusnya menurut cerita, semua permohonan Nyi Subang Larang disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa. Atas petunjuk Syekh Quro, Prabu Pamanah Rasa segera pergi ke Mekkah. Di tanah suci Mekkah, Prabu Pamanah
Rasa disambut oleh seorang kakek penyamaran dari Syekh Maulana Jafar Sidik. Prabu Pamanah Rasa merasa keget, ketika namanya di ketahui oleh seorang kakek. Dan Kekek itu, bersedia membantu untuk mencarikan Lintang Kerti Jejer Seratus dengan syarat harus mengucapkan Dua Kalimah Syahadat. Sang Prabu Pamanah Rasa denga tulus dan ikhlas mengucapkan Dua Kalimah Syahadat, yang makna pengakuan pada Allah SWT, sabagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah dan, Muhammad adalah utusannya.

Persiteruan antara Prabusiliwangi Pamanahrasa dengan Raden Walangsungsang (Putra Mahkota Raja Padjajaran)

Singkat cerita Prabusiliwangi telah memiliki anak dari Nyi Subang Larang yaitu :

  1. Walangsungsang
  2. Rara Santang
  3. Kian Santang

Tinggal di Keraton Padjajaran, letaknya masih secara tepat belum di temukan, namun kini masih menjadi perdebatan dan penelitian lebih lanjut lokasinya di Gunung Padang, Ini salah satu Keraton yang kemungkinan pernah ditempati oleh Prabusiliwangi.

Setelah Prabusiliwangi di tinggal Nyi Subang Larang ke Rahmat Allah SWT,  istri yang paling di cintainya. Beliau melupakan Islam yang pernah diikrarkannya. Beliau kembali memeluk Agama yang di anut leluhurnya (Sunda Wiwitan). Setelah ditinggal Istrinya, akhirnya menikah kembali dengan seorang putri dari Pakuan  ( sekarang Bogor ).

tilasansiliwangiRaden Walangsungsang yang juga putra Mahkota Kerajaan Padjajaran berkeinginan meneruskan agama Ibunya Nyi Subang Larang. Maka dari itu Raden Walangsungsang ingin berguru agama Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu, ia mengutarakan maksudnya kepada ayahandanya (Prabu Siliwangi) . Namun, Prabu Siliwangi melarang bahkan mengusir Walangsungsang dari istana.

Pangeran Walangsungsang lahir dikeraton Pajajaran bertepatan dengan Tahun 1423 Masehi. Pada masa mudanya ia memperoleh pendidikan yang berlatar belakang kebangsawanan dan politik, kurang lebih 17 tahun lamanya ia hidup di Istana Pajajaran.
Pada suatu malam, Walangsungsang melarikan diri meninggalkan istana Pakuan Pajajaran. Ia menuruti panggilan mimpi untuk berguru agama nabi kepada Syekh Nurjati, seorang pertapa asal Mekah di bukit Amparan Jati cirebon.

Dalam perjalanan mencari Syekh Nurjati, Walangsungsang bertemu dengan seorang pendeta Budha bernama Resi Danuwarsi. Kemudian Beliau pergi menuju Gunung Dihyang di padepokan Resi Danuwarsih, masuk wilayah Parahiyangan Bang Wetan.

Resi Danuwarsih adalah seorang Pendeta Budha yang menjadi penasehat Keraton Galuh, ketika Ibukota Kerajaan masih di Karang Kamulyan Ciamis. Sulit dibayangkan bagaimana keteguhan Sang Pangeran yang muslim, berguru kepada seorang Pendeta yang secara lahiriah masih beragama Budha. Tapi mungkin saja secara hakiki sang Danuwarsih sudah Islam meskipun tingkah lakunya masih Hindu-Budha. Tetapi yang Jelas kedatangan Putra Sulung Prabu Siliwangi di Padepokan Gunung Dihyang disambut suka cita oleh pendeta Danuwarsih.

Dan untuk menyempurnakan kegembiraan tersebut, sang Guru menikahkan putri satu-satunya yang bernama Nyi Endang Geulis. Darinyalah lahir seorang putri yang bernama Nyai Mas Pakungwati yang kelak kemudian hari menjadi permaisuri Kanjeng Sunan Gunung Jati.

Begitupun Rara Santang adik Walangsungsang yang juga berkeinginan untuk mempelajari agama Islam, Rarasantang amat bersedih hati ditinggalkan pergi oleh kakaknya. Ia terus menerus menangis. Jerit hatinya tak tertahankan lagi hingga akhirnya ia pun pergi meninggalkan istana Pakuan Pajajaran.

Lalu, Prabu Siliwangi mengutus Patih Arga untuk mencari sang putri. Ia tidak diperkenankan pulang jika tidak berhasil menemukan Rara Santang. Namun, usaha Patih Arga sia-sia belaka karenanya ia tidak berani pulang.

Pangeran Walangsungsang akhirnya sampai kepada tujuan perjalanannya. Setibanya di gunung Jati, Walangsungsang menghadap Syekh Nurjati yang juga bernama Syekh Datuk Kafi yang berasal dari Mekah, dan masih keturunan Nabi Muhammad dari Jenal Ngabidin. Lalu, Walangsungsang berguru kepada Syekh Nurjati dan menjadi seorang muslim dengan mengucapkan syahadat. Setelah ilmunya dianggap cukup, Syekh Datuk Kafi menyuruh Walangsungsang untuk mendirikan perkampungan di tepi pantai. Walangsungsang memenuhi perintah gurunya. Ia pun berangkat menuju Kebon Pesisir, berikut istri dan adiknya Rara Santang. Perkampungan baru yang akan dibukanya kelak dikenal dengan nama Kebon Pesisir, sedangkan pesantrennya diberi nama Panjunan.

Dalam pada itu, Syekh Datuk Kafi memberi gelar kepada Walngsungsang dengan sebutan Ki Cakrabumi. Selanjutnya, Cakrabumi membuka hutan dengan Golok Cabang. Dengan kesaktian Golok Cabang, hutan lebat telah dibabat dalam waktu singkat. Ketika goloknya bekerja membabat hutan, pohon-pohonan roboh dengan mudah, lalu golok mengeluarkan api dan membakar kayu-kayu hutan sehingga dalam waktu singkat pekerjaan sudah selesai, sementara Walangsungsang tidur mendengkur.

Hutan yang dirambah cukup luas sehingga pendatang-pendatang baru tidak perlu bersusah payah membuka hutan. Dalam waktu singkat, pedukuhan baru itu sudah banyak penduduknya, dan mereka menamakan Cakrabuwana dengan sebutan Kuwu Sangkan.
Kuwu Sangkan sendiri tidak bertani karena pekerjaannya hanyalah menjala ikan dan membuat terasi. Jemuran terasi yang dibuatnya membentang ke selatan hingga Gunung Cangak di tanah Girang.

Suatu ketika, ia pulang ke rumahnya yang terletak di Kanoman ternyata gurunya, Syekh Datuk Kahfi telah berada disana. Ketika Syekh Datuk Kahfi menemui Walangsungsang di Kebon Pesisir,ia menganjurkan supaya Walangsungsang dan adiknya menunaikan ibadah haji ke Mekah. Di mekkah kemudian mereka berkenalan dengan patih dari mesir yg sedang mencari permaisuri untuk rajanya, dari perkenalan itu akhirnya raja mesir menikah dengan nyi Rara santang dengan maskawin sorban Nabi Muhammad SAW, Rara Santang tinggal di Mesir bersama Suaminya, dan Walangsungsang pulang kembali ke pulau Jawa. Ketika Rara Santang sedang hamil tersiarlah kabar bahwa Raja Mesir Wafat saat berkunjung ke Negri Rum di kerajaan saudaranya. Kesedihan Rara Santang yang sedang hamil tua itu tak terbayangkan lagi mendengar kematian suaminya,apalagi masa kehamilannya telah mencapai usia 12 bulan. Rara santang di karuniahi anak kembar yaitu Syarif Hidayatulloh & Syarif Arifin.

Berdirinya Kesultanan Cirebon
Ketika Mereka berdua dewasa, tahta kerajaan mesir di turunkan ke pada Syarif Hidayatullah tapi Beliau menolaknya dan memberikanya pada adik kembarnya Syarif Arifin. Syarif Hidayatullah lebih memilih berdakwah ke pulau Jawa di tanah leluhurnya. Setelah sampai di Muara Jati beliau bertemu dengan Walangsungsang (pamannya yg telah berganti nama pangeran Cakrabuana), kemudian di nikahkanlah Syarif Hidayatullah dengan putri pamannya yg bernama Nyi mas Pakung Wati.

makansunanKemudian Syarif Hidayatullah diangkat menjadi Waliyulloh dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah dan bergelar pula sebagai Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah.
Pada tahun 1479 M, kedudukan Pangeran Cakrabuana sebagai Raja di keraton Pakung Wati kemudian digantikan Sunan Gunung Jati. Beliau lalu mendirikan Kesultanan Cirebon Sebagai Pusat Penyebaraan Agama islam di tataran Sunda. Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulai oleh Syarif Hidayatullah dengan membentuk Dewan Dakwah Sembilan Wali atau Wali Songo sebagai tokoh Ulama penyebar Agama islam di Jawa. Dan kemudian Syarif Hidayatullah diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka , Kuningan , Kawali (Ciamis), Sunda Kelapa , dan Banten.

Dikisahkan, setelah kerajaan-kerajaan kecil Bawahan Pakuan Pajajaran berhasil di taklukan oleh kesultanan Demak dan Cirebon, dan rakyat Pajajaran hampir seluruhnya masuk islam dan para pejabat tinggi Kerajaan Padjajaran kebanyakan lari kedaerah Banten yaitu daerah Baduy Kabupaten Rangkas dan ada yang ke Garut serta ke wilayah Cirebon. Dan sebagian rakyat dan pembesar Kerajaan Pajajaran yg tidak mau masuk islam dan masih setia mengikuti ajaran terdahulunya, masih bertahan di kerajaan Padjajaran.

 

Keadaan itu Membuat Prabu Siliwangi bersedih hati. Ketenangan, kedamaian dan ketentraman batinnya yang slalu bergejolak tentang iman, karna Prabusiliwangi merasa malu dengan istri dan putra putrinya serta cucunya yang menjadi Walialloh Sunan Gunung Jati, anak dari Rara Santang, apa lagi pada waktu itu Prabu silihwangi terkalahkan pasukan Islam dan rakyat Pajajaran hampir seluruhnya masuk islam.
Prabusiliwangi Pamanah Rasa melakukan MOKSA

Pada suatu hari berkat kesaktiannya, Prabu Siliwangi mengetahui kedatangan cucunya, Sunan Gunung Jati yg bermaksud ingin mengajaknya kembali memeluk islam. Dalam hatinya, ia merasa malu kalau sampai tunduk kepada cucunya. Dengan kesaktian pusakanya, sebilah Ecis, ia berjalan ke tengah alun-alun pajajaran dan membaca mantra aji sikir, lalu pusaka Ecis ditancapkan ke tanah. Seketika itu,negara dan rakyat Pajajaran lenyap dan Sirna ke Alam ghaib, Pusaka Ecis Itupun berubah pula menjadi rumput ligundi hitam.

patilasan2Syarif Hidayatullah atau sunan gunung jati yang datang kaget karena kerajaan pajajaran beserta Rakyatnya telah hilang berpindah ke Alam Ghaib dan berubah menjadi hutan belantara. Sebelum pergi beliau berucap “Rakyat pajajaran yg bersembunyi di hutan seperti Harimau”. Rakyat pajajaran selamanya akan menjadi Harimau sampai Rumput ligundi itu di cabut. Kegagalan Sunan gunung Jati dalam mengislamkan kakeknya, Prabu silihwangi membuat Pangeran Walangsungsang harus turun tangan mengislamkan Ayahandanya Prabu silihwangi.
Dengan ilmu Saepi Angin hanya dalam sekejap beliau melesat ke Pajajaran yg telah berubah menjadi hutan belantara. Berkat kesaktian ajian Trawangan,  Walangsungsang berhasil menemukan Ayahandanya Prabu Silihwangi yg menggunakan Ajian Halimun. Namun usaha Walangsungsang pun sia-sia untuk merubah pendirian Ayahandanya, sang prabu tetap bersikukuh tidak mau memeluk islam. Akhirnya sang prabu beserta pengikutnya merubah wujud mereka menjadi Harimau. Sebagai bukti bulatnya tekad sang prabu untuk tetap mengikuti ajaran leluhurnya Prabu Siliwangi pun memilih menghilang atau ngahyang (MOKSA) di kawasan Hutan Sancang , saat terdesak oleh kejaran putra sulungnya Pangeran Walangsungsang yg bersikeras mengajak Ayahandanya untuk masuk Islam. Kerajaan Pajajaran dan Prabu Silihwangi menghilang bukan berdasarkan perang melawan anak dan cucunya melainkan hanya semata-mata tidak ingin membanjiri darah dengan anak cucunya apa lagi prabu siliwangi adalah ayah yang bijaksana dan Raja yg penuh wibawa pada rakyatnya.”

Salah satu Patilasan Prabusiliwangi tempat peristirahatan dan penempaan para raja Padjajaran di desa Pajajar Kecamatan Rajagaluh Kabupaten Majalengka .

 

Kabupaten Cirebon berada di daerah pesisir Laut Jawa. Berdasarkan letak geografisnya, wilayah Kabupaten Cirebon berada pada posisi 6°30’–7°00’ Lintang Selatan dan 108°40’-108°48’ Bujur Timur. Bagianutara merupakan dataran rendah, sedang bagian barat daya berupa pegunungan, yakni Lereng Gunung Ciremai. Letak daratannya memanjang dari barat laut ke tenggara. Wilayah Kabupaten Cirebon dibatasi oleh:
• Utara Kota Cirebon dan Laut Jawa
• Barat daya Kabupaten Majalengka
• Barat Kabupaten Indramayu
• Selatan Kabupaten Kuningan,
• Timur Kabupaten Brebes (Jawa Tengah)

Kabupaten Cirebon terdiri atas 40 kecamatan, yang dibagi lagi atas 412 desa dan 12 kelurahan. Pusat pemerintahan Kabupaten Cirebon di Kecamatan Sumber, yang berada di sebelah selatan Kota Cirebon. Tiga kecamatan yang baru terbentuk pada tahun 2007 adalah Kecamatan Jamblang (Pemekaran Kecamatan Klangenan sebelah timur), KecamatanSuranenggala (Pemekaran Kecamatan Kapetakan sebelah selatan), dan Kecamatan Greged (Pemekaran KecamatanBeber sebelah timur).
Cirebon merupakan salah satu kabupaten terpadat di Jawa Barat. Penduduk Kabupaten Cirebon terus bertambah, meski demikian dari sensus ke sensus, tren rata-rata laju pertumbuhan penduduk dari sensus ke sensus semakin melambat. Pada Tahun 1980 jumlah penduduk Kabupaten Cirebon baru berjumlah 1.331.690 jiwa dan pada tahun 1990 tercatat 1.648.021 jiwa. Sepuluh tahun kemudian pada tahun 2000 penduduk Kabupaten Cirebon menjadi 1.931.068 jiwa. Hasil sementara dari pengolahan data SP2010-L1.P212, SP2010-C2, dan SP2010-L2 (kondisi 15 Juli 2010) sebesar 2.065.142 jiwa dengan komposisi 1.057.501 jiwa penduduk laki-laki dan 1.007.641 jiwa penduduk perempuan.
Menurut angka sementara hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010, Kecamatan Sumber merupakan wilayah dengan jumlah penduduknya paling banyak yaitu sebesar 80.914 jiwa dan berikutnya adalah Kecamatan Gunungjati yaitu sebanyak 77.712 jiwa. Sedangkan wilayah dengan jumlah penduduk paling sedikit di Kabupaten Cirebon adalah KecamatanPasaleman yaitu sebanyak 24.912 jiwa dan Kecamatan Karangwareng sebanyak 26.554 jiwa.

A. TAYUBAN

 

Gambar

 

Tayuban konon lahir di lingkungan kraton dan digunakan untukmenghormati tamu-tamu agung juga digunakan untuk acara-acara penting seperti pelakrama agung (perkawinan keluarga Sultan), tanggap warsa, peringatan ulang tahun, papakan, atau sunatan putra dalem.

Tayuban kemudian menyebar dan berkembang di masyarakat dengan pengaruh negatif baik datangnya dari luar maupun dari dalam.

Waditra yang digunakan adalah laras pelog, gendang, bedug, saron, bonang dsb. Wiyaga berjumlah 15 orang.

Busana Wiyaga bendo, baju taqwa, kain batik dan celana sontok. Busana Ronggeng kembang goyang, melati suren, sanggung bokor, cinatok, sangsangan, krestagen dan alat perhias

 

B. TARI KLASIK

Gambar

 

Tari klasik adalah salah satu jenis tarian yang berkembang pada zaman kejayaan Kesultanan Cirebon.

Secara garis besar Tari Klasik ada 3 jenis :

1.       Tari Tradisional (tari Baksa, Sintren, Lais dsb)

2.       Tari Klasik Cirebon (tari topeng, Ludaya, lengep, gatot kaca, dsb.)

3.       ari Kreasi Modern (tari Merak, Kijang, Kupu kap, dsb.)

Waditra yang digunakan kendang, saron, penerus, bonang, jengglang, tutukan gong, dsb. Daerah penyekarannya terutama di lingkungan Kraton Kesepuhan Cirebon Daerah Wilayah III. Fungsi kesenian sebagai hiburan untuk menghormati tamu-tamu agung atau dalam resepsi kenegaraan.

 

C. JARAN LUMPING

Gambar

 

 

Jaran Lumping dahulu disebut juga Jaran Bari dari kata Birahi atau Kasmaran, karena mengajarkan apa dan bagaimana seharusnya kita mencintai Allah dan Rasulnya. Oleh karenaitu tarian Jaran Lumping digunakan sebagai alat dalam mengembangkan agamaIslam.Yang menciptakan Jaran Lumping adalah Ki Jaga Naya dan Ki Ishak dari Dana Laya Kecamatan Weru. Waditra yang digunakan yaitu bonang kecil, bonang Gede, panglima, Gendang, Tutukan, Gong, dan Kecrek.

sarana lainnya Damar Jodog, Sesajen, Pedupaan, Bara Api/Aran dan Jaran Lumping 5 buah yaitu Jaran Sembrani, Jaran Widusakti, Jaran Widujaya, Jaran Sekadiu. Busana penari menggunakan ikat wulung gundel meled, udeng merah, sumping kantil dan melati,selendang, rompi, celana sontok, kestagen/bodong dan kain batik.

 

D.  GENJRING RUDAT

Gambar

 

Pada awalnya Seni Rudat hanya berkembang di pesantren-pesantren, namun kemudian seni yang bernafaskan Islam ini berkembang pula di masyarakat umum. Munculnya kesenian berawal dari tumbuhnya semangat perjuangan masyarakat dalam upayanya melawan penjajah yang dipimpin oleh seorang pangeran dari Kesultanan Kanoman Cirebon.

Bersama pimpinan-pimpinan pesantren ia menyusun kekuatan dengan mengajarkan ilmu beladiri pada para santri. Kegiatan tersebut kemudian disamakan dengan membentuk gerakan-gerakan berbentuk tarian. Maka dalam tarian Rudat, kita akan melihat perpaduan gerak silat, dzikir dan gerakan sholat, kemudian diiringi dengan lantunan puji-pujian yang mengagungkan asma Allah dan Rasulnya.

Adapun alat musik yang digunakan dalam pertunjukan Rudat adalah perangkat genjring, trebang dan bedug.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

E. ANGKLUNG BUNGKO

 Gambar

 

 

Sintren atau Lais menurut dugaan sudah ada sejak zaman animisme dan dinamisme, dimana pada zaman itu digunakan sebagai salah satu alat untuk berkomunikasi dengan arwah para leluhur.

Pada zaman perkembangan agama Islam di Cirebon juga digunakan sebagai media dakwah dalam menyebarkan agama Islam, dimana sangat banyak pesan-pesan terselubung yang mencerminkan falsafah agama Islam.

Waditra yang digunakan pada Sintren adalah buyung tanah, bumbung/ruas bambu, kendi tanah dan kecrek. Para pelaku adalah seorang dalang sintren atau lais bodor, wiyaga 4-7 orang, juru dupa, juru kawih sebanyak 12 orang.

 

F. TARLING KLASIK

 

Tarling Klasik adalah kesenian khas daerah Cirebon yang lahir diperkirakan tahun 1934 dan hingga saat ini masih populer digemari baik oleh masyarakat regional maupun nasional.

Alat musik yang digunakan sangat sederhana yaitu gitar atau guitar dan bangsing/suling miring dilengkapi oleh alat musik lainnya seperti gong kendi, kecrek sendok, gendang terbuat dari tong sabun diberi karet untuk mengiringi lagu khas Cirebonan. Dari 2 buah alat musik gitar dan suling lahirlah kesenian yang disebut TARLING yang merupakan akronim dari kegua kata gitar dan suling.

 

G. TARI TOPENG TUMENGGUNG MAGANG DIRAJA DAN JINGGANANOM GAYA LOSARI

Gambar

 

               

Kedua tarian ini berkarakter putra bersifat gagah dengan ciri-ciri kualitas tenaga kuat dan jangkauan ruang yang luas dengan tempo cepat. Gending yang mengiringi tari tumenggung Magang Di Raja adalah Gending tumenggung atau Barlen, Sedangkan Jingganom diiringi dengan musik Bendrong.

 

H. SAMPYONG 

Gambar

 

 

 

Sampyong atau ujungan merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang diwarnai unsur tari, olahraga, bela diri, kekebalan dan unsur magic.

Alat yang digunakan untuk adu kekuatan yaitu tongkat rotan ukuran panjang kurang lebih 125 cm. Waditra yang digunakan adalah bedug, ketuk kenong, gendang, gong, dan kecrek. Jumlah wiyaga hanya 5 orang. Sampyong atau ujungan berkembang di wilayah utara diantaranya daerah Cirebon Utaradan Kapetakan (Bedulan).

 

I.BUROQ

Gambar

 

 

Kesenian Buroq lahir di Cirebon diperkirakan tahun 1920 di desa Kalimaro Kecamatan Babakan. Penciptanya yaitu Bapak Ta’al.

Genjring Buroq merupakan kesenian helaran atau arak-arakan terutama dalam khitanan untuk mengarak pengantin sunat. Waditra yang digunakan adalah 4 buah genjring, gong, gitar, biola dsb. Peralatan boneka Buroq terdiri dari boneka yang berbadan kuda bersayap dan berkepala wanita cantik, sepasang boneka ondel-ondel, macan tutul dsb.

 

 

J. SINGA DEPOK

Gambar

 

Merupakan salah satu jenis seni baru yang tumbuh dan berkembang di Kabuapten Cirebon, kesenian ini berkembang di masyarakat untuk kebutuhan helaran dalam acara syukuran khitanan.

Dalam pagelarannya kesenian Singa Depok lebih menitiberatkan pada atraksi gerak sisingaan yang dimainkan secara berkelompok. Adapun musik iringannya terdiri dari harmonisasi, kendang, trompet dan gong.

 

K. GONG RENTENG

 

Gamelan Renteng yang pertama sampai sekarang masih ada dan tersimpan di Musium Kraton Kesepuhan. Konon Gamelan itu hadiah dari Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati Sych Maulana Syarief Hidayatullah.

Tabuhan Renteng berfungsi sebagai tabuhan untuk upacara adat terutama untuk menyambut tamu agung, selain itu juga digunakan untuk alat dakwah dalam menyebarkan agama Islam.

Waditra yang digunakan adalah Kromong (bonang kecil) 14 buah, Kromong (bonang gede) 19 buah, Panglima 5 buah, Gendang besar 1 buah, gendang kecil 1 buah, Tutukan (keblug) 2 buah, Gong besar kecil 2 buah, kecrek(ecek ebres).

Wiyaga berjumlah 9 orang dan menggunakan busana baju takwa kain batik, keris dan ikat kepala, wulung agreman.

Gamelan Renteng juga digunakan sebagai gamelan pengiring tarian Jaran Lumping

1. Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Al-Ishlah (STEI AL-ISHLAH)
2. Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC)
3. Akper Husada Cirebon
4. Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Cirebon (STIMIK IKMI)
Penduduk Cirebon di bagian utara umumnya menggunakan bahasa Cirebon sebagai bahasa sehari-hari. Bahasa Cirebon merupakan bahasa yang cukup berbeda dengan bahasa Jawa standar, bahasa Cirebon memiliki wyakarana atau tatabahasanya tersendiri yang tidak mengikuti pola tata bahasa Jawa, bahasa ini dituturkan di bagian barat Kabupaten Cirebon dan di seluruh kecamatan pesisir di bagian timur Kabupaten Cirebon.
Sementara di wilayah pedalaman seperti kecamatan Pasaleman, Ciledug dan sekitarnya yang berbatasan denganKabupaten Kuningan atau wilayah pedalaman lainnya yang berbatasan dengan Kabupaten Majalengka serta Kabupaten Brebes dipergunakan Bahasa Sunda Cirebon dengan beragam dialeknya.
Bahasa Jawa juga bercampur dengan bahasa Cirebon dan bahasa Sunda Cirebon di beberapa wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Brebes diantaranya di Kecamatan Losari, Pabedilan, Ciledug dan Pasaleman
Cirebon berada di jalur pantura, sebagai pintu gerbang utama provinsi Jawa Barat di sebelah timur, yakni di KecamatanLosari. Pada waktu musim mudik, jalur ini merupakan salah satu yang terpadat di Indonesia. Cirebon juga terdapat jalan tol Palimanan-Kanci.

TRANSPORTASI KE CIREBON

MELALUI KERETA

 

JADWAL KERETA API CIREBON EKSPRESS
Berikut ini kami informasikan jadwal kereta api Cirebon Ekspress, kereta ini memiliki dua kelas yaitu Eksekutif dan Bisnis.

keretaapi

 

Berikut jadwal lengkapnya:

JAKARTA – CIREBON

Jadwal Kereta Cirebon Ekspress Pagi

  • Berangkat dari Jakarta: 06:00 WIB
  • Tiba di Cirebon: 08:51 WIB
  • Harga: Rp 100.000 s/d Rp 120.000 (Bisnis) – Rp 135.000 s/d Rp 175.000 (Eksekutif)

Jadwal Kereta Cirebon Ekspress Pagi

  • Berangkat dari Jakarta: 09:45 WIB
  • Tiba di Cirebon: 12:34 WIB
  • Harga: Rp 100.000 s/d Rp 120.000 (Bisnis) – Rp 135.000 s/d Rp 175.000 (Eksekutif)

Jadwal Kereta Cirebon Ekspress Siang

  • Berangkat dari Jakarta: 11:00 WIB
  • Tiba di Cirebon: 13:52 WIB
  • Harga: Rp 100.000 s/d Rp 120.000 (Bisnis) – Rp 135.000 s/d Rp 175.000 (Eksekutif)

Jadwal Kereta Cirebon Ekspress Siang

  • Berangkat dari Jakarta: 13:30 WIB
  • Tiba di Cirebon: 16:28 WIB
  • Harga: Rp 85.000 s/d Rp 100.000 (Bisnis) – Rp 100.000 s/d Rp 135.000 (Eksekutif)

Jadwal Kereta Cirebon Ekspress Malam

  • Berangkat dari Jakarta: 18:40 WIB
  • Tiba di Cirebon: 21:34 WIB
  • Harga: Rp 85.000 s/d Rp 100.000 (Bisnis) – Rp 100.000 s/d Rp 135.000 (Eksekutif)

Jadwal Kereta Cirebon Ekspress Fakultatif (Hanya di weekend dan momen-momen tertentu saja)

  • Berangkat dari Jakarta: 20:40 WIB
  • Tiba di Cirebon: 23:51 WIB
  • Harga: Rp 120.000 (Bisnis) – Rp 100.000 s/d Rp 175.000 (Eksekutif)

 

CIREBON - JAKARTA

Jadwal Kereta Cirebon Ekspress Pagi

  • Berangkat dari Cirebon: 06:15 WIB
  • Tiba di Jakarta: 09:10 WIB
  • Harga: Rp 100.000 s/d Rp 120.000 (Bisnis) – Rp 135.000 s/d Rp 175.000 (Eksekutif)

Jadwal Kereta Cirebon Ekspress Pagi

  • Berangkat dari Cirebon: 07:40 WIB
  • Tiba di Jakarta: 10:35 WIB
  • Harga: Rp 100.000 s/d Rp 120.000 (Bisnis) – Rp 135.000 s/d Rp 175.000 (Eksekutif)

Jadwal Kereta Cirebon Ekspress Pagi

  • Berangkat dari Cirebon: 10:00 WIB
  • Tiba di Jakarta: 12:50 WIB
  • Harga: Rp 100.000 s/d Rp 120.000 (Bisnis) – Rp 135.000 s/d Rp 175.000 (Eksekutif)

Jadwal Kereta Cirebon Ekspress Sore

  • Berangkat dari Cirebon: 15:15 WIB
  • Tiba di Jakarta: 18:07 WIB
  • Harga: Rp 85.000 s/d Rp 100.000 (Bisnis) – Rp 100.000 s/d Rp 135.000 (Eksekutif)

Jadwal Kereta Cirebon Ekspress Malam

  • Berangkat dari Cirebon: 18:15 WIB
  • Tiba di Jakarta: 21:08 WIB
  • Harga: Rp 85.000 s/d Rp 100.000 (Bisnis) – Rp 100.000 s/d Rp 135.000 (Eksekutif)

 

Jadwal kereta api Cirebon Ekspress ini sewaktu-waktu dapat berubah. Untuk informasi selengkapnya silahkan menghubungi Call Center KAI: 121 atau kunjungi website KAI: www.kereta-api.co.id

JADWAL KERETA API ARGO JATI

Berikut ini kami informasikan jadwal kereta api Argo Jati, kereta ini merupakan kereta api kelas eksekutif.

argojati

Berikut jadwal lengkapnya:

CIREBON – JAKARTA

JADWAL KERETA API ARGO JATI PAGI

  • Jadwal Kereta Api Argo Jati TambahanBerangkat dari Cirebon: 04:55 WIB
  • Tiba di Jakarta: 07:43 WIB
  • Harga: Rp 160.000 s/d Rp 190.000
  • Berangkat dari Cirebon: 11:30 WIB
  • Tiba di Jakarta:�14:31 WIB
  • Harga: Rp 140.000 s/d Rp 170.000
  • Berangkat dari Cirebon: 14:00 WIB
  • Tiba di Jakarta: 16:52 WIB
  • Harga: Rp 140.000 s/d Rp 170.000

JADWAL KERETA API ARGO JATI TAMBAHAN

JADWAL KERETA API ARGO JATI SIANG

JAKARTA – CIREBON

JADWAL KERETA API ARGO JATI TAMBAHAN

  • Berangkat dari Jakarta: 08:10 WIB
  • Tiba di Cirebon: 11:03 WIB
  • Harga: Rp 160.000 s/d Rp 190.000
  • Berangkat dari Jakarta: 09:00 WIB
  • Tiba di Cirebon: 11:42 WIB
  • Harga: Rp 160.000 s/d Rp 190.000
  • Berangkat dari Jakarta: 17:25 WIB
  • Tiba di Cirebon: 20:12 WIB
  • Harga: Rp 140.000 s/d Rp 170.000

JADWAL KERETA API ARGO JATI PAGI

JADWAL KERETA API ARGO JATI SORE

Jadwal kereta api Argo Jati ini sewaktu-waktu dapat berubah. Untuk informasi selengkapnya silahkan menghubungi Call Center KAI: 121 atau kunjungi website KAI: www.kereta-api.co.id

1. Bus: jurusan Ciledug-Cirebon, jurusan Cirebon-Jakarta, Cirebon-Kuningan, Cirebon-Bandung, dan seluruh kota di Pulau Jawa.
2. Elf: jurusan Ciledug-Cirebon via Babakan, Ciledug-Cirebon via Sindang Laut, Sindang Laut-Cirebon, Babakan-Cirebon, Losari-Cirebon, Losari-Tegal, Cirebon-Rajagaluh via Palimanan, Cirebon-Kadipaten via Palimanan, Cirebon-Gegesik via Arjawinangun.
3. Angkutan Kota: GP (Gunung Sari-Plered), GS (Gunung Sari-Sumber), GC (Gunung Sari-Ciperna), GM (Gunung Sari-Mundu), GG (Gunung Sari-Celancang), Celancang-Bakung, Plered-Celancang, Plered-Sumber, Plered-Arjawinangun, Plered-Gunung Jati, Plumbon-Sumber, Sumber-Jamblang, Sumber-Kramat, dan Sumber-Wanasaba.
Batik Trusmi
Di Desa Trusmi dan Panembahan, dapat dijumpai banyak home industry yang menjual batik khas Cirebon. Sentra batik ini akan lebih ramai pada akhir pekan oleh pembeli yang datang dari luar kota dan luar negeri. Motif batik yang terkenal dari kawasan ini adalah motif Mega Mendung.

Pasar Kue Setu
Pasar Kue Setu terletak di Kecamatan Plered. Kue-kue yang penjualannya tersebar hingga ke hampir seluruh Indonesia dan kebanyakan berupa camilan ini diproduksi oleh industri rumahan di Desa Setu dan sekitarnya.
Cemilan khas Cirebon yang sangat cocok dijadikan oleh-oleh ini mayoritas bernama unik, di antaranya kerupuk kulit kerbau/rambak, kerupuk melarat, kerupuk geol, kerupuk upil, kerupuk gendar, kerupuk jengkol, jagung marning, rengginang mini, emping, kelitik, kue atom, maypilow, kembang andul, ladu, simpil, gapit, otokowok, opak, welus, sagon, dan masih banyak lagi.
Di sekitar Plered ini banyak pula ditemui penjual sandal karet, yang penjualannya sudah menyebar ke seluruh nusantara.

Wisata Ziarah
1. Makam Sunan Gunung Jati
2. Situs Batu Tulis huludayeuh
3. Petilasan Cimandung
4. Situs Pasanggrahan Balong Biru
5. Balong Keramat Tuk
6. Makam keramat Megu
7. Situs Lawang Gede
8. Makam Nyi Mas Gandasari
9. Makam Syekh Magelung Sakti
10. Makam Talun
11. Makam Buyut Trusmi
12. Makam P. Jakatawa dan Syeh Bentong

Wana Wisata
Lapangan Golf Ciperna
Kawasan ini berada di tepi jalan raya Cirebon-Kuningan dengan kontur tanah berbukit berjarak 5 km ke selatan dari kota Cirebon, berada pada ketinggian 200 m di atas permukaan laut.
Daya tarik utama kawasan ini adalah keindahan pemandangan kota Cirebon dengan latar belakang laut lepas ke arah utara, sedangkan ke arah selatan Gunung Ciremai di suasana yang menarik. Berdasarkan Perda nomor 25 tahun 1996, kawasan wisata Ciperna ditetapkan seluas 300 Ha yang diperuntukkan bagi 5 (lima) ruang kawasan pengembangan antara lain:
• Kawasan wisata Agro Griya. Pembangunan Agro Griya dalam bentuk rumah kebun yang dapat disewakan dengan fasilitas Hotel Bintang.
• Kawasan wisata Agro Tirta. Pembangunan Agro Tirta dalam bentuk pembuatan danau buatan yang dilengkapi rekreasi air.
• Kawasan Agro Wisata I
• Kawasan Agro Wisata II. Agro wisata I dan II diarahkan dalam bentuk pembangunan kawasan perkebunan mangga gedong gincu, srikaya, atau tanaman jenis lainya. Di samping itu membangun track olahraga yang dapat menyesuaikan dengan kontur tanah sekitarnya.
• Kawasan Land Mark.

Belawa
Lokasi wisata ini berjarak kira-kira 25 km dari Kota Sumber ke arah timur. Objek wisata ini memiliki daya tarik dari kura-kurayang mempunyai ciri khusus di punggung dengan nama latin ‘’Aquatic Tortose Ortilia Norneensis’’. Menyimpan legenda menarik tentang keberadaannya di Desa Belawa, Kecamatan Sedong. Menurut penelitian merupakan spesies kura-kura yang langka dan patut dilindungi keberadaannya. Objek wisata ini direncanakan untuk dikembangkan menjadi kawasan yang lebih lengkap, yaitu taman kura-kura (turle park) atau taman reptilia.

Situ Sedong
Terletak di Kecamatan Sedong sekitar 26 km dari arah pusat Kota Sumber, dengan luas lahan 62,5 Ha. Selain mempunyai panorama yang indah, situ ini juga disebut pula situ pengasingan yang merupakan tempat rekreasi air dan pemancingan.

Banyu Panas Palimanan
Objek wisata ini terletak di Kecamatan Palimanan sekitar 16 km dari Cirebon ke arah Bandung, merupakan pemandian air panas dengan kadar belerang yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit. Pemandian air panas ini ada di sekitar bukit Gunung Kapur, Gunung Kromong, yang mempunyai keistimewaan mata air selalu berpindah pindah.

Plangon
Objek wisata plangon berlokasi di Desa Babakan Kecamatan Sumber ± 10 km dari Kota Cirebon. Tempat rekreasi dengan panorama alam indah yang dihuni oleh sekelompok kera liar. Selain selain tempat rekreasi, terdapat juga makam Pangeran Kejaksan dan Pangeran Panjunan. Puncak acaranya biasa di masa ziarah Plangon tanggal 2 syawal, 11 Dzulhijjah, dan 27 Rajab. Untuk pengembangan wisata ini meliputi lahan sekitar 10 Ha, dan status tanah ini milik Kesultanan. Kapasitas pengunjung rata-rata sekitar 58.000 pengunjung/tahun.

Situ Patok
Luas Situ Patok 175 Ha yang terletak di Desa Setu Patok sekitar 6 km dari Kota Cirebon ke arah Tegal, objek wisata ini selain mempunyai panorama indah juga tersedia sarana rekreasi air dan pemancingan.
Lokasi ini berpotensi untuk dikembangkan sekitar lahan 7 Ha, dengan status tanah negara. prasarana yang diperlukan adalah pembuatan dermaga, pengadaan perahu motor, sarana pemancingan, serta pembangunan rumah makan yang artistik. Jalan ke arah lokasi cukup baik dan lebar, jaringan aliran listrik sudah tersedia dan saat ini minat masyarakat untuk mengunjungi wisata ini cukup banyak.

Cikalahang
Kawasan Cikalahang merupakan kawasan yang baru berkembang dengan daya dukung alam. Sasaran wisatawan pada awalnya adalah objek wisata Telaga Remis yang dikelola oleh Perum Perhutani KPH Kuningan dan berada di wilayah Kuningan.
Hingga saat ini kawasan Telaga Remis masih menarik wisatawan yang dapat diandalkan dari segi pendapatan. Jalan menuju objek wisata ini adalah melalui Desa Cikalahang yang berada di wilayah Kabupaten Cirebon, sehingga keberadaannya memberikan keuntungan bagi masyarakat sekitar usaha lain sebagai daya pendukung. Di samping itu juga kawasan Cikalahang telah berkembang menjadi suatu kawasan yang mempunyai daya tarik sendiri yaitu dari usaha restoran/rumah makan ikan bakar. Dengan banyaknya peminat, wilayah itu berkembang pesat menjadi daya tarik wisata makan, sehingga pada hari-hari libur penuh dikunjungi wisatawan.
Menjual keadaan alam yang menarik dengan sumber air dari kaki Gunung Ciremai yang tidak pernah kering, sangat memungkinkan untuk membuka peluang usaha kolam renang yang bersifat alami dengan fasilitas modern serta bumi perkemahan.
Kawasan wisata Cikalahang terletak sekitar 6 km dari Kota Sumber dan 1 km dari jalan alternatif Cirebon-Majalengkadengan lingkungan alam yang masih asri.

Ciwaringin
Hutan wisata dengan menampilkan keindahan alam dan banyak ditumbuhi oleh pohon kayu putih. Menyediakan lokasi bagi para penggemar jalan kaki dan arena motor cross. Di lokasi ini juga terdapat Danau Ciranca bagi penggemar memancing. Berlokasi di Desa Ciwaringin Kecamatan Ciwaringin, 17 km dari Kota Sumber

MAKANAN KHAS CIREBON

EMPAL GENTONG

Empal Gentong, kuliner khas kota Cirebon yang dahulu mungkin tidak sepopuler sekarang. Kini, Empal Gentong khas Cirebon sudah dikenal masyarakat seluruh Indonesia, bahkan mungkin hingga luar negeri. Daerah origin (asal) empal gentong khas Cirebon adalah kawasan Battembat, kabupaten Cirebon.

empalgentongDesa Battembat terletak kurang lebih 4 KM ke arah Barat dari pusat kota Cirebon. Battembat memang satu kawasan di Cirebon dimana masyarakatnya banyak berprofesi sebagai peternak sapi, juga penjagal sapi. Yang kemudian dagingnya diolah menjadi kuliner Empal Gentong yang kini sangat populer.

Empal Gentong itu sendiri adalah kuliner khas Cirebon dengan daging sapi sebagai bahan makanan utamanya. Daging sapi dimasak dengan kuah rempah yang agak kental nan khas yang dimasak di dalam gentong yang terbuat dari tanah liat dan dimasak dengan menggunakan kayu bakar sebagai sumber panasnya. Penggunaan gentong dan kayu bakar inilah yang memberi cita rasa yang begitu khas pada Empal Gentong khas Cirebon.

Daging sapi dicacah kecil-kecil, dan hampir seluruh bagian dari sapi ada di sini. Mulai dari daging, hingga jeroan seperti usus dan babat. Empal Gentong khas Cirebon bisa dinikmati dengan menggunakan lontong atau nasi sebagai sumber karbohidratnya.

Rasa dari Empal Gentong adalah gurih, segar, dan ada sedikit hangat dari rempah yang digunakan. Sebagai tambahan rasa pedas, Empal Gentong juga biasa disajikan dengan tambahan bubuk cabai bagi yang ingin berselera pedas. Makin lengkap lagi dengan krupuk udang yang juga khas Cirebon.

Di Cirebon sendiri, tentu terdapat banyak sekali penjual kuliner Empal Gentong, terutama di daerah origin-nya, Battembat kabupaten Cirebon. Dan kini, di daerah ini, hampir setiap hari di siang dan malam hari dipenuhi pengunjung dari dalam dan luar kota yang ingin menikmati Empal Gentong khas Cirebon dan banyak tempat makan yang menjual Empal Gentong di sepanjang jalan raya Plered-Cirebon.

 

EMPAL ASEM

empalasemEmpal Asem khas Cirebon merupakan varian dari Empal Gentong yang nampaknya lebih populer bagi masyarakat Indonesia. Namun begitu, rasa dari empal asem sebetulnya tidak kalah lezat dibanding dengan Empal Gentong.

Perbedaannya, Empal Asem memiliki kuah yang bening, berbeda dengan Empal Gentong yang kuahnya lebih kental dan berwarna kuning-hijau. Rasanya pun tentu berbeda, jika Empal Gentong berasa lebih pekat dan gurih, Empal Asem berasa lebih segar dan masam, dan tekstur serta rasa kuahnya yang lebih ringan.

Ini hanyalah soal selera mana yang lebih nikmat. Bagi masyarakat luar kota Cirebon, silahkan coba sendiri Empal Asem dan Empal Gentong di kota Cirebon, dan tentukan sendiri mana yang lebih cocok dengan selera anda.

 

 

 

NASI JAMBLANG

Nasi Jamblang, kuliner khas Cirebon yang satu ini, kini dengan segala kesederhanaannya, semakin populer di Indonesia. Bagi masyarakat Indonesia yang belum tahu, Nasi Jamblang adalah kuliner khas kota Cirebon yang beridentitaskan nasi yang dikepal kemudian dibungkus daun Jati. Penggunaan daun Jati ini sendiri karena dengan daun Jati, nasi menjadi lebih pulen dan beraroma khas, serta lebih awet.

jamblangAwal sejarahnya, konon, Nasi Jamblang pada awalnya diperuntukan bagi para pekerja paksa di zaman penjajahan Belanda yang pada waktu itu bekerja membangun jalan raya Daendels dari Anyer menuju Panarukan yang melewati Kabupaten Cirebon. Konon juga pada awalnya, Nasi Jamblang diperuntukan bagi para pekerja kasar di Pelabuhan dan di jalan Pekalipan.

Nasi Jamblang juga konon berasal dari sebuah daerah bernama Jamblang di Kabupaten Cirebon. Lauk pauk yang digunakan di menu Nasi Jamblang sangat beragam, sebut saja, sambal goreng, tempe dan tahu goreng, perkedel kentang, sate kentang, panjelan atau ikan asin yang digoreng kering, blakutak atau cumi yang dimasak beserta tinta hitamnya, paru goreng, ceplok bumbu merah, dan masih banyak lagi.

Kini, Nasi Jamblang sudah menjelma menjadi kuliner bagi masyarakat luas, tidak hanya bagi kaum tertentu saja. Berbagai kalangan masyarakat menyukai Nasi Jamblang. Dan tentu, di Cirebon, ada beberapa penjual Nnasi Jamblang yang sangat terkenal sampai ke luar kota Cirebon. Di antaranya adalah:

 

 

– Nasi Jamblang Jalan Kebon Cai

– Nasi Jamblang Mang Dul

– Nasi Jamblang Hj. Sumarni (Pelabuhan)

– Nasi Jamblang Pipit

 

 

NASI LENGKO

Ini dia, kuliner khas Cirebon yang bisa dikatakan paling sehat karena hanya menggunakan bahan makanan nabati saja. Nasi Lengko khas Cirebon terdiri dari nasi, tempe goreng, tahu goreng, timun, tauge, kucai, dan bawang goreng, sertu bumbu khas khusus Nasi Lengko, serta kecap dan krupuk. Bagi yang berselera, Nasi Lengko juga bisa dinikmati dengan sate kambing.

lengko Walaupun sangatlah sederhana dan nampaknya semua orang dapat membuatnya sendiri di rumah, namun tidak semua Nasi Lengko berasa sama. Dan di Cirebon sendiri, penggemar Nasi Lengko tentu banyak sekali. Walaupun mungkin tidak memiliki penggemar sebanyak Empal Gentong ataupun Nasi Jamblang, Nasi Lengko tetap populer sampai keluar kota Cirebon.

Dan di Cirebon sendiri, tentu ada penjual Nasi Lengko yang melegenda dan masih bertahan hingga saat ini, yaitu:

 

 

 

 

– Nasi Lengko H. M. Sadi

– Nasi Lengko H. Barno

 

DOCANG

Docang adalah kuliner khas Cirebon yang bisa dikatakan paling unik. Unik dari segi latar belakang sejarahnya, unik dari bahan pembuatannya, juga unik dari segi rasanya. Dari sisi sejarahnya, nampaknya ada dua versi sejarah mengenai Docang ini.

docangVersi pertama, konon Docang pada awalnya digunakan salah seorang Pangeran untuk meracuni para Wali, namun ternyata tidak berdampak apa-apa dan justru menjadi makanan kesukaan para Wali. Versi lainnya menyebutkan bahwa pada awalnya, Docang berasal dari sisa makanan para Wali yang tidak habis dan kemudian sengaja diolah lagi, yang kemudian menjadi kuliner baru, yaitu Docang.

Bagaimanapun sejarahnya, Docang sudah menjadi kuliner khas Cirebon yang paling unik. Docang berisi lontong, daun singkong, tauge, parutan kelapa, krupuk, serta kuah unik yang terbuat dari dage dalam bahasa Cirebon, atau oncom dalam kosa kata Sunda.

Kuah inilah yang membuat Docang bercita rasa begitu khas dan unik. Bagi para penggemarnya, docang biasa disantap di pagi hari, bisa juga di malam hari. Di kota Cirebon, ada penjual Docang yang sangat terkenal hingga saat ini, yaitu:

 

 

– Docang Siliwangi

– Docang Kesambi

– Docang Pak Kumis

 

BUBUR SOP AYAM

 

Bubur Sop Ayam adalah salah satu kuliner khas dari kota Cirebon. Walaupun popularitasnya tidak setinggi Empal Gentong dan Nasi Jamblang, rasa dari kuliner khas Cirebon yang satu ini sebetulnya tidak kalah lezat dibanding kuliner-kuliner khas Cirebon lainnya.

bubursopBubur Sop Ayam khas Cirebon memiliki ciri khas tersendiri dibanding bubur ayam lainnya. Bubur Sop Ayam khas Cirebon memiliki kuah hangat dari sop ayam, yang tentu terbuat dari kaldu asli dari ayam kampung yang disiramkan di atas bubur yang disajikan di atas mangkok. Isian dari Bubur Sop Ayam khas Cirebon adalah suwiran daging ayam kampung, kacang, so’un, irisan daun bawang, irisan kol, kemudian ditaburi merica dan diberi kecap manis sebagai pelengkapnya.

Bubur Sop Ayam khas Cirebon memang paling pas dinikmati di malam hari untuk menghangatkan badan, walaupun cuaca Cirebon relatif selalu panas, baik siang maupun malam. Dan meskipun Bubur Sop Ayam nampaknya lebih cocok untuk orang yang sedang kurang fit, kuliner khas Cirebon yang satu ini tetap memiliki penggemarnya sendiri.

Penggemar Bubur Sop Ayam khas Cirebon di kota Cirebon sendiri tidak sedikit. Terlihat di warung penjual Bubur Sop Ayam khas Cirebon yang hampir setiap malam selalu ramai dikunjungi para penggemarnya. Di kota Cirebon sendiri, penjual Bubur Sop Ayam khas Cirebon yang paling populer hanya ada beberapa saja, yaitu:

 

 

– Bubur Sop Ayam M. Kapi

– Bubur Sop Ayam M. Djohar

 

MIE KOCLOK

Mie Koclok merupakan salah satu kuliner unik dari kota Cirebon. Nama ‘Koclok’ didapat dari mie-nya yang dikoclok-koclok dahulu didalam tempat merebus mie yang sudah berisi kuah khusus. Selain itu, Mie Koclok khas Cirebon juga disiram kuah yang unik, karena kental dan gurih, terbuat dari santan kelapa.

miekocokSementara, isian lainnya yang ada dalam kuliner Mie Koclok khas Cirebon adalah suwiran daging ayam kampung, telor rebus, tauge, irisan daun bawang, bawang goreng, dan taburan merica. Rasa dari Mie Koclok khas Cirebon ini adalah gurih, dan sedikit asin.

Penggemar Mie Koclok khas Cirebon ini tentu tidak sedikit. Dan di kota Cirebon sendiri, penjual Mie Koclok khas Cirebon yang ‘berusia’ tua, populer, dan masih bertahan hingga sekarang ada beberapa. Satu informasi penting lagi, ada perbedaan antara Mie Koclok khas Cirebon, dengan Mie Kocok khas Bandung, selain dari penulisannya, dimana Mie Koclok khas Cirebon dengan huruf ‘L’, sedangkan Mie Kocok khas Bandung tanpa huruf ‘L’.

Selain itu, dilihat dari isiannya pun berbeda, Mie Koclok khas Cirebon menggunakan mie kuning berbentuk bulat, suwiran daging ayam kampung, tauge, daun bawang, bawang goreng, kuahnya kental, putih berbahan santan. Sedangkan Mie Kocok khas Bandung menggunakan mie kuning gepeng, tauge, tetelan daging/kikil, bawang goreng, seledri, dan kuahnya berwarna agak kuning dan bening.

Beberapa penjual Mie Koclok khas Cirebon yang sudah puluhan tahun berjualan, paling populer, dan masih bertahan hingga saat ini adalah:

 

– Mie Koclok Pak Rasita

– Mie Koclok Panjunan

– Mie Koclok Mang Sam Jln. Pekiringan

 

TAHU GEJROT

gejrot Tahu Gejrot merupakan kuliner kudapan, atau jajanan ringan khas Cirebon. Daerahorigin atau daerah asal Tahu Gejrot adalah di Ciledug, sekitar beberapa kilometer ke arah Timur dari kota Cirebon. Tahu Gejrot adalah kuliner khas Cirebon dengan isian tahu goreng, yang disiram bumbu khusus.

Bumbu khusus ini terdiri dari kuah untuk menyiram Tahu Gejrot dan ulegan beberapa rempah. Kuah siramnya terbuat dari gula merah, sedangkan bumbu uleg rempahnya adalah bawang merah dan cabe rawit. Bawang merah mentah dan cabe rawit mentah digerus kasar, kemudian dicampur kuah gula merah. Campuran bumbu ini yang kemudian disiramkan diatas tahu goreng yang diiris-iris.

Tahu Gejrot khas Cirebon biasa dijual dengan cara pikulan dan berkeliling pemukiman penduduk oleh para penjualnya. Kebanyakan penjual Tahu Gejrot ini juga berasal dari daerah Ciledug, Kabupaten Cirebon, sesuai dengan daerah asal Tahu Gejrot.

Saat ini, mungkin sudah mulai sulit menemukan penjual Tahu Gejrot khas Cirebon yang masih berkeliling kampung. Walaupun begitu, ada beberapa penjual Tahu Gejrot yang sudah mangkal tetap, seperti yang biasa mangkal di depan Toko Manisan Sinta di sekitaran pasar Kanoman.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>